Angka Tensi Bisa Menipu, Dokter Ingatkan Pentingnya Cek Akurasi Tensimeter Digital

Nanang Febriyanto • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 04:32 WIB
Ketua Pokja Hipertensi Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Bagus Andi Pramono.
Ketua Pokja Hipertensi Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Bagus Andi Pramono.

 JOGJA - Mengukur tekanan darah secara mandiri di rumah kini menjadi bagian penting dalam pengendalian hipertensi. Namun, kebiasaan tersebut bisa menimbulkan masalah jika tensimeter digital yang digunakan tidak akurat.

Ketua Pokja Hipertensi Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Bagus Andi Pramono mengatakan akurasi alat menjadi hal penting. Karena hasil pengukuran di rumah kerap menjadi acuan dokter dalam mengevaluasi kondisi pasien.

“Banyak masyarakat sudah rajin mengukur tensi di rumah, tetapi abai terhadap kondisi alatnya,” ujar Bagus dalam diskusi kesehatan Omron Experience Center (OEC) di Yogyakarta, Kamis (20/8/2026).

Menurutnya, sensor pada tensimeter digital dapat mengalami penurunan performa seiring waktu. Hasil pengukuran yang meleset dapat berujung pada kesalahan penanganan.

Baca Juga: Tegas Tertibkan, Sehari Satpol PP Gunungkidul Razia 100 Reklame Melanggar

Jika tekanan darah terbaca lebih rendah dari kondisi sebenarnya (underestimate), hipertensi bisa tidak tertangani secara optimal. Sehingga meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, hingga gangguan ginjal.

Sebaliknya, hasil yang terlalu tinggi (overestimate) juga berisiko. Data tersebut dapat memengaruhi keputusan terapi dan membuat pasien berpotensi mendapatkan obat atau dosis yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Oleh karena itu, Bagus mengingatkan masyarakat tidak cukup hanya memperhatikan angka yang muncul di layar tensimeter. Alat yang digunakan juga perlu dipastikan memiliki validasi klinis dan diperiksa secara berkala. Setidaknya enam bulan sekali. 

“Sehingga, data yang diberikan kepada dokter benar-benar akurat,” tegas Dokter spesialis jantung yang berpraktik di RS Bhayangkara Polda D.I. Yogyakarta itu. 

Baca Juga: PBB-P2 Baru 56 Persen, Pemkab Magelang Kejar Pelunasan sebelum Jatuh Tempo

Kebutuhan pemantauan yang akurat menjadi semakin penting mengingat beban hipertensi di Daerah Istimewa Yogyakarta masih tinggi. 

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi di DIY mencapai 31,8 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional 30,8 persen.

Sementara itu, data Hearts Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta per Juli 2026 menunjukkan hampir 45 persen pasien hipertensi yang terdaftar tidak lagi rutin melakukan kontrol ke fasilitas kesehatan dalam setahun terakhir.

Kondisi tersebut membuat pemantauan tekanan darah secara mandiri di rumah semakin dibutuhkan. Pemantauan mandiri tetap perlu dilakukan dengan cara yang benar, termasuk menggunakan perangkat yang terjaga akurasinya.

Baca Juga: Tak Hanya Hasilkan Tanaman dan Ikan, Smart Greenhouse Aquaponik Dikembangkan di Kedungsari

Pemeliharaan alat ukur juga menjadi perhatian. Direktur Omron Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe, mengatakan pemeriksaan dan perawatan perangkat secara berkala diperlukan agar alat tetap berfungsi sesuai standar.

Kemudahan akses pemeriksaan dan kalibrasi alat menjadi bagian penting dalam menjaga akurasi pengukuran. Di Yogyakarta, salah satu fasilitas yang menyediakan layanan tersebut berada di kawasan Pakualaman melalui Omron Experience Center (OEC).

Editor : Iwa Ikhwanudin
Tensimeter Omron Tensimeter digital hipertensi tekanan darah