SLEMAN - Tren gaya hidup modern hingga kebiasaan kurang bergerak (sedentary lifestyle) kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan generasi muda.
Berbagai penyakit saluran pencernaan, bahkan kanker yang dulu identik dengan usia lanjut, kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.
Ahli Gastroenterologi-Hepatologi Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam mengatakan, perubahan pola hidup menjadi pemicu utama meningkatnya kasus penyakit pencernaan kronis.
Seperti Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), kanker usus besar (kolorektal), hingga kanker kerongkongan.
Baca Juga: Genjot Produktivitas, LPP Agro Nusantara Gelar 100 Kelas Pelatihan untuk 3.035 Pekebun Swadaya
"Terus terang sekarang berbagai penyakit pencernaan banyak terjadi pada anak muda. Kanker usus besar semakin sering ditemukan, begitu juga kanker kerongkongan. Semua ini berkaitan dengan gaya hidup," ujarnya di sela acara Kongres Nasional (KONAS) dan Pertemuan Ilmiah Nasional (PIN) 2026 di Yogyakarta belum lama ini.
Menurut Prof. Ari, konsep makan all you can eat (AYCE) mendorong seseorang mengonsumsi makanan tinggi kalori dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Kebiasaan itu berpotensi meningkatkan risiko obesitas dan gangguan metabolisme.
Selain itu, tren minuman atau kopi kekinian dengan tambahan gula, susu, krimer, dan aneka topping juga menyumbang asupan kalori berlebih.
"Kalau memang mau ngopi, sebaiknya kopi tanpa gula dan tanpa susu. Yang jadi masalah sekarang justru minuman yang manis dengan banyak topping," kata pria yang juga menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) itu.
Baca Juga: Dukung Transisi Energi, Danantara Buka Peluang Pendanaan Proyek Pengolahan Sampah Jadi Listrik
Ia juga menyoroti sejumlah kebiasaan lain yang meningkatkan risiko penyakit pencernaan, seperti konsumsi daging merah berlebihan tanpa diimbangi serat, minim aktivitas fisik, terlalu lama berada di ruangan ber-AC, kurang minum air putih, serta kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol.
Menurutnya, pola hidup tersebut dapat memicu obesitas yang berujung pada fatty liver atau perlemakan hati. Jika tidak ditangani, kondisi itu dapat berkembang menjadi peradangan, sirosis, hingga kanker hati.
"Ujungnya adalah kanker yang sekarang semakin banyak ditemukan pada usia muda. Ini sudah menjadi isu global, termasuk di Indonesia," tegas Guru Besar dan Mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.
Prof. Ari menekankan, meningkatnya angka harapan hidup harus diimbangi dengan kualitas hidup yang baik. Karena itu, generasi muda perlu mulai menerapkan pola hidup sehat sejak dini.
Baca Juga: Link Live Streaming Indonesia vs Kamboja ASEAN Championship 2026: Kick-off Malam Ini Pukul 20.30 WIB
Beberapa langkah sederhana yang disarankan antara lain rutin berolahraga atau berjalan sedikitnya 6.000 langkah per hari, membatasi konsumsi kalori dan daging merah, memperbanyak sayur serta makanan berserat, mengurangi minuman manis dan bersoda, mencukupi kebutuhan air putih, serta menghindari rokok dan alkohol.
"Masyarakat harus melek gaya hidup yang dianggap biasa saat ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan di masa depan. Menjaga pola hidup sehat harus dimulai sejak muda," pungkasnya. (naf)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja