SLEMAN - Penyakit saluran cerna di Indonesia kini tak lagi didominasi kelompok lanjut usia. Gangguan hati berat hingga kanker usus yang dulu identik menyerang lansia, kini justru mulai mengintai generasi muda produktif secara diam-diam.
Alarm tersebut disampaikan tiga organisasi profesi, yakni Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI), dan Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI) dalam Kongres Nasional (KONAS) dan Pertemuan Ilmiah Nasional (PIN) 2026 di Yogyakarta.
Ketua Umum PB PGI Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam mengungkapkan tren peningkatan kanker usus besar (kolorektal) pada usia muda mulai mengkhawatirkan.
Baca Juga: Gaya Belajar Unik di SMK Syubbanul Wathon Secang, Setengah Hari Akademik dan Pembinaan Pesantren
Pergeseran gaya hidup modern menjadi salah satu faktor yang diduga memicu munculnya penyakit pada stadium lanjut tanpa gejala awal yang jelas.
"Dari laporan 2.000 kasus kanker usus besar di Indonesia, sekitar 3 persen di antaranya terjadi pada pasien berusia di bawah 30 tahun. Ini angka yang besar dan perlu diwaspadai," ujarnya Sabtu (25/7/2026).
Menurut Prof. Ari sapaan akrabnya, deteksi dini menjadi penentu peluang hidup pasien. Jika kanker usus besar baru ditemukan pada stadium IV, tingkat kelangsungan hidup lima tahun hanya sekitar 5 persen. Sebaliknya, bila terdeteksi sejak stadium awal, peluang kesembuhan dapat mencapai 95 persen.
Baca Juga: Gulung Arema, Persib Kuasai Puncak Klasemen Grup A Piala Presiden 2026
Ancaman serupa juga datang dari penyakit hati. Ketua Umum PB PPHI Dr. dr. Andri Sanityoso menjelaskan Indonesia masih menghadapi tingginya kasus Hepatitis B dengan prevalensi sekitar 6 persen dan Hepatitis C sekitar 1 persen.
Di sisi lain, kini muncul tren perlemakan hati atau Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD) akibat pola makan tidak sehat dan kurang aktivitas fisik.
"Sekitar 30 hingga 40 persen masyarakat Indonesia mengalami overweight. Jika perlemakan hati dibiarkan, kondisinya bisa berkembang menjadi sirosis hingga kanker hati," katanya di The Alana Hotel & Convention Center.
Baca Juga: Di Tengah Tekanan Biaya Jualan Online, KiriminAja Hadirkan Solusi Direct Commerce untuk Seller
Andri mengingatkan, penyakit hati kerap berkembang tanpa gejala. Bahkan ketika fungsi hati telah menurun hingga 50 persen, banyak pasien masih merasa sehat.
"Begitu muncul gejala, biasanya fungsi hati sudah turun di bawah 20 persen sehingga penanganannya menjadi jauh lebih sulit," imbuhnya.
AI Bantu Deteksi Lebih Dini
Perkembangan teknologi turut menjadi harapan baru dalam deteksi dini penyakit saluran cerna. Ketua Umum PB PEGI Dr. dr. Achmad Fauzi menjelaskan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini mulai diintegrasikan dengan teknologi endoskopi untuk membantu dokter menemukan benjolan maupun tumor berukuran kecil sebelum berkembang menjadi kanker.
"AI bekerja secara konsisten. Berbeda dengan manusia yang bisa lelah atau dipengaruhi faktor emosional, AI mampu menganalisis ribuan data dengan stabil," jelasnya.
Menurut Fauzi, akurasi AI dalam membantu diagnosis telah mencapai lebih dari 80 persen dan terus mengalami pengembangan. Saat ini perangkat AI buatan Tiongkok senilai sekitar Rp 1,3 miliar sedang diuji coba di Yogyakarta sebelum nantinya digunakan di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
Baca Juga: Mengabadikan Bencana, Merawat Ingatan, dan Menyalakan Harapan di Omah Petroek, Sleman
Selain teknologi, kongres ini juga menjadi momentum lahirnya inovasi medis dalam negeri. Prof. Ari mengungkapkan telah dikembangkan probiotik lokal hasil isolasi kultur susu Indonesia yang ditujukan untuk membantu penanganan gangguan pencernaan, seperti radang usus dan Irritable Bowel Syndrome (IBS), sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Dukungan terhadap penyelenggaraan kongres juga datang dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X menyambut baik terpilihnya Yogyakarta sebagai tuan rumah.
"Kami menyambut baik kehadiran para ahli dan tenaga kesehatan dari seluruh Indonesia di Bumi Mataram," ujarnya.
Menurut HB X, kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat, khususnya dalam deteksi dini penyakit hati dan saluran cerna. Dukungan itu sejalan dengan visi Pemda DIY dalam mendorong transformasi sektor kesehatan.
Sementara itu, Ketua Panitia KONAS dan PIN 2026 Dr. Putut Bayupurnama mengatakan forum ilmiah yang digelar setiap tiga tahun tersebut bertujuan menyamakan pedoman penanganan penyakit bagi para dokter di seluruh Indonesia agar selalu mengikuti perkembangan ilmu kedokteran terbaru.
Putut mengimbau masyarakat tidak menunggu munculnya gejala untuk memeriksakan kesehatan. Pemanfaatan program cek kesehatan gratis (CKG) maupun skrining berkala dinilai penting untuk mendeteksi Hepatitis B, Hepatitis C, perlemakan hati, hingga tumor usus sejak dini sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih berat.
Editor : Heru Pratomo