RADAR JOGJA - Seorang pria berinisial S (75) warga Kabupaten Bantul meninggal dunia mendadak saat berolahraga pagi di kawasan Alun-Alun Selatan, Kelurahan Patehan, Kemantren Keraton, Kota Yogyakarta pada Jumat (17/7/2026).
Korban diduga meninggal akibat serangan jantung.
Kasi Humas Polresta Yogyakarta, Iptu Dani Hasan, menjelaskan korban berangkat dari Bantul bersama sejumlah rekannya sekitar pukul 06.15 WIB, menuju Alun-Alun Selatan untuk berolahraga jalan kaki mengelilingi kawasan tersebut.
Usai berolahraga, korban dan rekan-rekannya beristirahat di sisi timur alun-alun, sambil hendak memesan minuman di sebuah angkringan.
Namun, saat sedang duduk dan mengobrol, korban tiba-tiba terjatuh dari tempat duduknya.
Menurut keterangan saksi, sebelum terjatuh, kondisi korban terlihat sehat dan tidak mengeluhkan apa pun.
Rekan korban langsung menghubungi Public Safety Center (PSC) Kota Yogyakarta, yang kemudian meminta bantuan PMI Kota Yogyakarta.
Sayangnya, petugas PMI yang tiba di lokasi mendapati korban telah meninggal dunia.
Tim Inafis Polresta Yogyakarta yang turun ke lokasi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan maupun indikasi keterlibatan pihak lain dalam kematian tersebut.
Dani menambahkan, berdasarkan keterangan keluarga, korban memiliki riwayat penyakit stroke, meski kondisinya belakangan disebut membaik dan ia rutin berolahraga jalan kaki.
Kenapa Bisa Terjadi Meski Sedang Rutin Olahraga?
Kasus semacam ini kerap memunculkan pertanyaan, bukankah olahraga rutin justru seharusnya menyehatkan jantung, bukan memicu serangan jantung?
Faktanya, olahraga memang menyehatkan.
Namun bukan menjadi penjamin mutlak sebagai tameng dari serangan jantung, khususnya pada seseorang yang sudah memiliki faktor risiko tertentu.
Serangan jantung terjadi akibat tersumbatnya aliran darah menuju otot jantung.
Pada umumnya dipicu penumpukan plak lemak dan kolesterol di dinding pembuluh darah koroner.
Sejumlah faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan serangan jantung meliputi usia lanjut, riwayat tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, kebiasaan merokok, hingga riwayat penyakit kardiovaskular sebelumnya, termasuk stroke.
Olahraga seperti jalan kaki memang dianjurkan sebagai bagian dari pemulihan dan menjaga kebugaran.
Tetapi harus tetap disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu.
Gejala serangan jantung sendiri tidak selalu berupa nyeri dada hebat seperti yang sering digambarkan.
Pada sebagian orang, terutama lansia, gejalanya bisa lebih ringan dan tidak khas, seperti sesak napas, keringat dingin, mudah lelah, atau rasa tidak nyaman di dada yang datang dan hilang, sehingga sering terlambat disadari sebagai tanda bahaya.
Kasus meninggalnya korban di Alun-Alun Selatan ini menjadi pengingat bahwa olahraga tetap penting dilakukan.
Namun pemantauan kondisi kesehatan secara berkala juga tak kalah penting, terutama bagi kelompok usia lanjut dengan riwayat penyakit tertentu.
Editor : Meitika Candra Lantiva