Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kerap Disalahartikan Pasrah tanpa Upaya Medis, Paliatif Ilmu Menjaga Kenyamanan Pasien Kronis yang Sulit Disembuhkan

Heru Pratomo • Kamis, 9 Juli 2026 | 21:12 WIB
Mengenal Perawatan Paliatif: Ilmu Menjaga Kenyamanan Pasien Kronis yang Sulit Disembuhkan
Mengenal Perawatan Paliatif: Ilmu Menjaga Kenyamanan Pasien Kronis yang Sulit Disembuhkan

 

 

SLEMAN - Pelayanan kesehatan kini tak lagi hanya promotif atau peningkatan kesehatan, preventif atau pencegahan, kuratif atau pengobatan, dan rehabilitatif atau pemulihan. Saat ini mulai dikenal juga paliatif. Apa itu?

Bagi dr. Edi Setiawan Tehuteru, Sp. A, Subsp. HO, MHA, tindakan paliatif adalah ilmu utnuk melihat pasien tidak hanya dari fisiknya atau penyakitnya saja. Tapi juga aspek sosial, psikologi bahkan spiritual.

"Selama ini jika sakit yang ditangani gejalanya hilang, itu kalau batuk atau pilek, tapi jika kanker? Tidak segampang itu disembuhkan, kalau tidak bisa sembuh?" ungkapnya ditemui di Pendopo The Bean Garden Palagan, Kamis (9/7).

Baca Juga: GMS Pusat Klaim Semua Syarat Administrasi Sudah Lengkap terkait Izin Gedung, KRK Belum Terbit

Dalam kondisi seperti itulah tindakan paliatif dibutuhkan. Yaitu menangani pasien yang butuh pengobatan dengan kemungkinan sembuhnya kecil. Dalam kondisi seperti itu, pasien tetap berhak merasa nyaman dan baik.

"Kalaupun tak bisa sembuh paling tidak pasien tersebut tetap baik-baik saja, tidak kesakitan, tidur lebih nyenyak, makan lebih enak," ungkapnya.

Menurut dia, jika pasien masih dalam kondisi sadar bisa diajak berkomunikasi terkait dengan kondisinya dan harapanya. Termasuk kemudian mengkomunikasikan dengan keluarga pasien terkait permintaan pasien. 

Baca Juga: Penjaga Gawang M. Fahri Resmi Berpisah dengan PSS Sleman

Dia mencontohkan, seperti harapan pasien untuk meninggal di rumah. "Makanya tempat meninggal terbaik itu bukan di rumah sakit tapi di rumah, kenapa? Saya akan jelaskan dalam seminar besok," ungkapnya.

Yaitu Seminar Nasional bertajuk “Completing the Puzzle of Palliative Care: A Multidisciplinary Approach to Holistic Care” yang dilaksanakan pada Jumat-Sabtu, 10-11 Juli 2026, di Auditorium Lantai 3, RS Bethesda Yogyakarta, dan gratis.

Sementara itu dr Venita Eng, M.Sc CT menambahkan saat ini baru sekitar lima persen tenaga kesehatan di Indonesia yang paham terkait penanganan paliatif. Kondisi itu juga karena belum adanya pendidikan paliatif di Indonesia. Saat ini masih harus belajar ke luar negeri.

Baca Juga: Literasi Makin Hidup, Festival Jogja Dipenuhi Bedah Buku hingga Diskusi Publik

"Bisa dibayangkan, lebih dari 90 persen pasien yang sebenarnya membutuhkan paliatif tapi tidak bisa mendapatkan layanan tersebut," tuturnya.

Sedang direktur LKP Suluh Kasih Bangsa, selaku perwakilan panitia penyelenggaradrg. Jenny Megawati, Sp.KGA menyebut, selama ini, perawatan paliatif kerap disalahartikan oleh masyarakat bahkan sebagian tenaga medis sekadar sebagai end-of-life care atau penanda dihentikannya upaya medis.

Padahal, sesuai dengan amanat UU No. 17 Tahun 2023 dan KMK No. 2180/2023, paliatif adalah pendekatan holistik yang harus diintegrasikan sejak dini untuk mengelola Total Pain pasien.

"Mulai dari nyeri fisik, distres emosional, masalah sosial, hingga krisis spiritual," ujarnya 

 

Editor : Heru Pratomo
#RS Bethesda #paliatif #medis #rumah #pasien