JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY menilai persoalan tenaga medis di DIY saat ini bukan lagi soal jumlah dokter yang kurang, melainkan ketimpangan distribusi yang membuat tenaga kesehatan menumpuk di wilayah dengan aktivitas ekonomi lebih tinggi seperti Kabupaten Sleman dan Kota Jogja.
Kepala Dinkes DIY Gregorius Anung Trihadi mengatakan, bahwa secara keseluruhan jumlah dokter umum maupun dokter spesialis di DIY masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan layanan kesehatan. Pemenuhan tersebut mengacu pada standar yang saat ini digunakan pemerintah.
"Kalau di Puskesmas acuannya minimal satu sampai dua dokter. Kita punya 121 Puskesmas dan itu sudah terpenuhi," katanya, Rabu (24/6/2026).
Menurut Anung, kondisi serupa juga terjadi pada layanan rumah sakit. Ketersediaan dokter spesialis dinilai masih mampu menopang pelayanan kesehatan di berbagai fasilitas kesehatan yang ada.
"Kalau kita lihat, dengan dokter spesialis yang ada di rumah sakit, menurut saya masih bisa memberikan pelayanan yang optimal," ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar saat ini adalah disparitas persebaran tenaga medis antarwilayah. Kondisi tersebut membuat sejumlah daerah masih kesulitan mendapatkan dokter dalam jumlah ideal.
"Secara keseluruhan kecukupan. Yang menjadi isu itu disparitasnya," kata Anung.
Kepala Bidang SDM Dinkes DIY Agus Priyanto menjelaskan, bahwa ketimpangan distribusi dokter tidak bisa dilepaskan dari faktor ekonomi. Menurutnya, tenaga medis cenderung memilih wilayah yang menawarkan peluang praktik dan pendapatan lebih besar.
"Dokter itu kan mereka cari kerja, mencari penghasilan," ujarnya.
Ia menuturkan wilayah seperti Sleman dan Kota Jogja memiliki daya tarik lebih kuat karena banyak rumah sakit dan fasilitas kesehatan terkonsentrasi di kawasan tersebut. Kondisi itu memungkinkan dokter membuka praktik di beberapa tempat sekaligus.
Baca Juga: BKD DIY Catat Dua Pejabat Eselon II Pemprov DIY Masuki Pensiun, Segera Siapkan Penggantinya
"Fasilitas kesehatan kita sebenarnya banyak, tapi terkonsentrasi di kantong ekonomi. Akhirnya dokter juga berkumpul di sana," katanya.
Menurut Agus, dokter saat ini dapat memiliki izin praktik di hingga tiga fasilitas kesehatan. Situasi tersebut membuat daerah dengan jumlah rumah sakit terbatas menjadi kurang menarik bagi tenaga medis.
"Kalau dia praktik di Gunungkidul otomatis yang kedua tiganya bisa jadi bukan di Gunungkidul, kan jauh. Akhirnya dia milih di wilayah-wilayah yang kantong ekonomi di mana rumah sakitnya banyak," ujarnya.
Baca Juga: UGM dan DPD RI Godok Revisi UU Petani, Harga Minimum hingga Regenerasi Petani Jadi Sorotan
Ia mencontohkan seorang dokter yang berpraktik di Sleman memiliki lebih banyak pilihan rumah sakit maupun klinik yang berlokasi berdekatan. Selain memudahkan mobilitas, kondisi tersebut juga membuka peluang memperoleh pendapatan lebih besar.
Sebaliknya, daerah seperti Gunungkidul harus bersaing dengan kekuatan ekonomi yang dimiliki Sleman dan Kota Jogja. Keterbatasan fiskal pemerintah daerah juga berdampak pada kemampuan memberikan insentif yang kompetitif bagi dokter.
"Nah, Gunungkidul yang harus bersaing dengan kekuatan ekonomi seperti Sleman ini masih sangat tertinggal di sana. Tapi ya itulah faktanya kenapa minat jadi tidak ke sana," kata Agus.
Baca Juga: Evolusi Terbaru, AHM Hadirkan Skutik Sporti New Honda Vario Evo 160
Selain faktor ekonomi, ia menilai masih terdapat pertimbangan lain yang memengaruhi minat dokter untuk bertugas di wilayah pinggiran. Salah satunya adalah kekhawatiran terhadap jumlah pasien apabila membuka praktik mandiri.
"Di wilayah tertentu, masyarakat belum tentu langsung ke dokter. Itu juga jadi pertimbangan mereka," ujarnya.
Untuk mengurangi ketimpangan tersebut, pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan jumlah dokter spesialis melalui program pendidikan, mendorong perpindahan tenaga medis ke daerah yang kekurangan dokter, hingga membuka peluang bagi dokter yang ingin berkarier di wilayah seperti Gunungkidul dan Kulonprogo.
"Kami sangat terbuka kalau ada dokter yang mau pindah ke wilayah seperti Gunungkidul. Itu terus kami dorong," pungkasnya. (iza)
Editor : Winda Atika Ira Puspita