MUNGKID - Partisipasi warga Kabupaten Magelang dalam program cek kesehatan gratis (CKG) masih tergolong rendah. Dari sekitar 1,3 juta sasaran lintas usia, baru sekitar 350 ribu warga yang tercatat telah memanfaatkan layanan tersebut. Kondisi ini mendorong pemkab untuk menggenjot sosialisasi dan meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya deteksi dini penyakit.
Staf Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magelang Indana Aziza Putri mengatakan, rendahnya angka partisipasi tidak lepas dari persepsi yang masih berkembang.
Sebagian warga cenderung enggan memeriksakan diri karena khawatir mengetahui adanya penyakit tertentu. "Padahal justru dari situ kita bisa melakukan pencegahan sejak dini," ujarnya, Jumat (22/5).
Baca Juga: ASN Bantul Wajib Gunakan Kendaraan Non-Fosil Setiap Jumat
Indana menegaskan, CKG merupakan program nasional yang sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Magelang, yakni Sehat Wargane. Program ini dirancang untuk menjangkau seluruh kelompok usia, mulai dari anak baru lahir, balita, hingga lanjut usia.
Data dari dinkes menunjukkan, sasaran program mencakup sekitar 20 ribu anak baru lahir, 117 ribu balita, 200 ribu usia sekolah, 800 ribu usia produktif, dan 200 ribu lansia. Namun, capaian saat ini masih jauh dari target, sehingga perlu upaya lebih masif untuk meningkatkan partisipasi.
Dia menjelaskan, satu tantangan utama adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap penyakit tanpa gejala atau silent killer, seperti hipertensi. Banyak warga merasa sehat karena tidak mengalami keluhan, padahal kondisi kesehatan sebenarnya berisiko.
Baca Juga: Harga Naik, Perajin Tahu di Gunungkidul Tetap Pilih Kedelai Impor Naik, Kepadatan Isi Produk Dikurangi agar Tak Rugi
Contohnya hipertensi. Banyak yang tidak merasa sakit, tidak pernah kumat, tapi ketika dicek ternyata tekanan darahnya tinggi. “Kalau diketahui lebih awal, bisa dikontrol dan dicegah komplikasinya," kata Indana.
Seiring perkembangan program, lanjut dia, mekanisme layanan CKG kini juga semakin fleksibel. Jika sebelumnya warga identik melakukan pemeriksaan saat momen ulang tahun, kini pemeriksaan dapat dilakukan kapan saja.
Indana pun mendorong warga untuk melakukan cek kesehatan setidaknya satu kali dalam setahun. Untuk mengakses layanan, warga dapat mendaftar melalui aplikasi Satu Sehat maupun laman ASIK. Selain itu, layanan juga tersedia secara langsung di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas dan posyandu terdekat.
Baca Juga: Aksi Pembacokan di Kotabaru Jogja Diawali Tantangan dari Geng Trah Gendeng, Polisi Masih Buru Empat Pelaku Lain
Anggota Komisi IX DPR RI, Vita Ervina menilai, rendahnya minat warga tidak hanya terkait akses. Tetapi juga kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan secara menyeluruh, termasuk dari lingkungan sekitar.
Vita menekankan, program CKG seharusnya dimanfaatkan sebagai langkah preventif, bukan sekadar respons ketika sakit.
Dengan pemeriksaan rutin, masyarakat dapat lebih dini mengidentifikasi potensi penyakit dan melakukan perubahan pola hidup.
"Kalau tahu lebih awal, pola makan dan gaya hidup bisa disesuaikan. Itu jauh lebih baik daripada menunggu sakit," paparnya.
Dia juga menyoroti fenomena ketakutan warga terhadap hasil pemeriksaan, yang justru menjadi penghambat utama. Menurutnya, pola pikir tersebut perlu diubah karena deteksi dini justru menjadi kunci dalam menjaga kualitas hidup.
"Banyak yang takut tahu sakitnya, padahal itu penting untuk antisipasi. Jangan sampai baru diketahui ketika sudah parah," tegasnya. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo