Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengikis Kesan Pahit, Jamu Kini Bertransformasi dari Minuman Kuno Jadi Solusi Pemulihan Stroke

Rizky Wahyu Arya Hutama • Sabtu, 18 April 2026 | 18:19 WIB
Peserta sedang menjelaskan bahan rempah-rempah untuk pembuatan jamu saat kegiatan Pasar Jamu di Pasar Ngasem, Patehan, Kraton, Jogjakarta, Sabtu (18/4/2026). Acara ini digelar dalam rangka edukasi dan memperkenalkan produk jamu nusantara, khususnya jamu di Jogjakarta. Pasar Jamu berlangsung selama dua hari mulai tanggal Sabtu, 18 April 2026 hingga Minggu, 19 April 2026. (Ulfatuzzahra)
Peserta sedang menjelaskan bahan rempah-rempah untuk pembuatan jamu saat kegiatan Pasar Jamu di Pasar Ngasem, Patehan, Kraton, Jogjakarta, Sabtu (18/4/2026). Acara ini digelar dalam rangka edukasi dan memperkenalkan produk jamu nusantara, khususnya jamu di Jogjakarta. Pasar Jamu berlangsung selama dua hari mulai tanggal Sabtu, 18 April 2026 hingga Minggu, 19 April 2026. (Ulfatuzzahra)

 

 

JOGJA - Kesan jamu sebagai minuman kuno yang pahit, kini perlahan mulai dikikis. Sebab para terapis yang tergabung dalam Asosiasi Sumber Daya Terapis Yogyakarta (ASDTY), berhasil mentransformasikan jamu menjadi bagian dari gaya hidup sehat modern, bahkan juga bisa memulihkan penyakit berat seperti stroke.

Founder ASDTY IB Haryanto menjelaskan inovasi jamu stroke yang mereka usung berfokus pada regenerasi sel otak. Sebab, menurutnya, pusat sistem saraf manusia berada di otak, sehingga kesehatan otak menjadi kunci utama kesembuhan organ gerak lainnya. 

Uniknya, meski menggunakan bahan tradisional, lanjut Haryanto jamu stroke ini menggunakan bahan-bahan yang digunakan berstandar tinggi, seperti ginkgo biloba dan ginseng yang didatangkan khusus dari luar daerah demi menjaga kualitas.

Baca Juga: PSBS Biak vs Persija Jakarta, Mauricio Souza Tak Mau Remehkan Laskar Badai Pasifik

"Intinya teman-teman bisa melakukan proses peracikan. Nanti bahan-bahannya mereka juga bisa cari sendiri," jelasnya, Sabtu (18/4).

Menurut Haryanto, meski saat ini peminat jamu masih didominasi oleh orang-orang tua. Tapi anak-anak muda kini sudah mau melirik soal minuman tradisional tersebut. Sebab dalam acara Pasar Jamu 2026 yang berlangsung di Pasar Ngasem selama dua hari, Sabtu (18/4) dan Minggu (19/4) banyak anak-anak muda, termasuk Gen Z yang berminat mengikuti kelas-kelas peracikan jamu.

​"Peminat kelas peracikan jamu, khususnya kapsul, semakin meningkat. Yang muda-muda sekarang mulai menjamah jamu karena lebih simpel dalam bentuk kapsul. Bisa dibawa ke mana-mana, tidak repot harus merebus dulu," lontarnya. 

Baca Juga: Prediksi Skor Chelsea vs Manchester United Premier League Minggu 19 April 2026, Biru Atau Merah?

Sementara, Founder Holistic Healing.id Didin Jamaludin menjelaskan jamu bukan sekadar urusan rasa, melainkan kedaulatan ekonomi dan budaya. Sehingga dalam gelaran Pasar Jamu 2026 ini pihaknya mendorong agar para pelaku UMKM jamu mulai naik kelas dengan memahami literasi Obat Bahan Alam (OBA).

"Kami ingin menciptakan ekosistem dari A sampai Z. Jiwa dan raganya disembuhkan. Kami harus jadi tuan rumah di negeri sendiri. Ingat, Belanda dulu datang ke sini bukan cari minyak atau batu bara, tapi cari rempah. Itulah kekuatan kami," tandasnya. (ayu).

Editor : Heru Pratomo
#pemulihan stroke #asdty #ginkgo biloba #Pasar Ngasem #jamu