Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tunggu Gemetar Baru Makan? Ketahui Bahayanya bagi Tubuh dan Metabolisme

Magang Radar Jogja • Rabu, 8 April 2026 | 14:05 WIB
Ilustrasi tubuh gemetar perut melilit kelaparan. (AI generated image)
Ilustrasi tubuh gemetar perut melilit kelaparan. (AI generated image)

RADAR JOGJA - Menunda makan sampai tubuh terasa gemetar ternyata sudah jadi kebiasaan yang cukup sering dilakukan banyak orang.

Alasannya beragam, mulai dari malas gerak, terlalu fokus mengerjakan tugas, malas memasak atau beli makanan, sampai menunda makan sampai perut melilit kelaparan.

Ada juga yang sengaja menunggu gemetar karena mengira itu tanda lemak sedang terbakar atau dietnya berhasil.

Padahal, kebiasaan ini justru bisa membawa dampak serius bagi kesehatan jika dilakukan terus-menerus.

Baca Juga: Prediksi Cuaca Kamis 9 April 2026: Awan Tebal hingga Hujan Disertai Petir Guyur Wilayah DIY, Masyarakat Diimbau Waspada

Coach kesehatan dan kebugaran, Natasya Limano, menjelaskan bahwa menunggu tubuh gemetar sebelum makan bukanlah hal yang aman.

Gemetar atau tremor menandakan tubuh sudah masuk ke kondisi gula darah yang sangat rendah atau hipoglikemia.

Pada fase ini, tubuh tidak lagi berada dalam kondisi normal, melainkan sudah masuk ke mode “survival darurat” untuk mempertahankan fungsi organ vital, terutama otak.

“Nunggu tremor baru makan itu bahaya, karena kalau udah sampai tremor biasanya tubuh udah masuk ke fase hipoglikemia, di mana kadar gula darah di dalam tubuh ini rendah banget,” jelas Natasya dalam video yang diunggah di Instagram pribadinya @natasyalimano.

Baca Juga: Tiga Anggota TNI yang Bertugas Menjaga Perdamaian di Timur Tengah Gugur, Begini Temuan awal Investigasi dari PBB

Melansir biologyinsights.com, secara biologis tubuh sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama.

Ketika seseorang tidak makan selama berjam-jam, kadar gula darah akan menurun.

Otak menjadi organ yang paling sensitif terhadap kondisi ini karena tidak bisa menyimpan glukosa sendiri.

Begitu gula darah turun di bawah batas normal, tubuh langsung menganggapnya sebagai krisis energi dan memicu respons darurat untuk menyelamatkan otak.

Dalam kondisi tersebut, tubuh akan menghentikan pelepasan insulin dan mulai mengeluarkan hormon stres seperti adrenalin.

Baca Juga: Prediksi Skor PSG vs Liverpool Liga Champions Kamis 9 April 2026

Lonjakan adrenalin inilah yang menyebabkan gejala fisik seperti gemetar, jantung berdebar, keringat dingin, cemas, hingga sulit fokus.

Gemetar bukan tanda lapar biasa, melainkan sinyal kuat bahwa tubuh sedang kewalahan dan kekurangan energi.

Masalahnya, jika kebiasaan menunggu gemetar ini dilakukan berulang dan dalam jangka panjang, tubuh akan terus dilatih untuk hidup dalam kondisi darurat.

Natasya menjelaskan bahwa tubuh akan terbiasa menghemat energi secara berlebihan.

Akibatnya, metabolisme bisa melambat.

Baca Juga: Jadwal Lengkap Empat Laga Terakhir PSS Sleman di Pegadaian Championship, Mampukah Super Elja Kembali ke Kasta Tertinggi

Ironisnya, orang yang ingin diet justru akan semakin sulit menurunkan berat badan karena tubuh menahan energi lebih kuat dari sebelumnya.

Selain menurunkan metabolisme, kebiasaan ini juga berdampak pada hormon stres.

Saat tubuh terus berada dalam mode darurat, hormon kortisol akan sering meningkat.

Kortisol yang tinggi dalam jangka panjang bisa membuat tubuh mudah lelah, mudah stres, dan mengganggu keseimbangan hormon lainnya.

Otak pun ikut terdampak karena otak sangat bergantung pada glukosa sebagai bahan bakarnya.

Baca Juga: Menang Telak atas PSBS Biak, Pelatih Bali United, Johnny Jansen: Modal Melawan Persib Bandung

“Ketika tubuh selalu di-training untuk menghemat energi, metabolisme kamu tuh bisa turun, yang kamu tadinya mau diet malah kesulitan kurusin badan karena metabolisme kamu lebih rendah. Hormon kortisol kamu selalu naik karena tubuh kamu selalu dalam mode darurat,” lanjut Natasya.

Tidak sedikit orang yang mengeluhkan gejala seperti mudah lupa, sulit konsentrasi, dan brain fog saat sering menunda makan. Ini bukan hal sepele.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa otak tidak mendapatkan suplai energi yang cukup.

Jika dibiarkan, produktivitas menurun dan risiko kesalahan saat belajar atau bekerja menjadi lebih besar, sesuatu yang sering dialami mahasiswa saat dikejar deadline.

Baca Juga: Serabi Kocor, Kuliner yang Resmi Menjadi Warisan Budaya Tak Benda Yogyakarta

Menariknya, kebiasaan menunggu gemetar juga justru bisa memicu pola makan yang tidak sehat.

Saat gula darah sudah sangat rendah dan makanan tidak langsung tersedia, seseorang cenderung makan secara berlebihan tanpa kontrol.

Fenomena ini dikenal sebagai binge eating, di mana seseorang bisa makan apa saja dalam jumlah besar karena tubuh sedang panik mencari energi.

Hal ini tentu berlawanan dengan tujuan diet dan hidup sehat.

Baca Juga: Menang Telak atas PSBS Biak, Pelatih Bali United, Johnny Jansen: Modal Melawan Persib Bandung

Bagi perempuan, dampaknya bisa lebih kompleks.

Dalam kondisi darurat berkepanjangan, tubuh akan memprioritaskan fungsi yang dianggap penting untuk bertahan hidup.

Hormon yang berkaitan dengan reproduksi bisa ditekan atau dimatikan sementara.

Akibatnya, siklus menstruasi bisa menjadi tidak teratur.

Ini sering kali tidak disadari karena dianggap wajar akibat stres atau kelelahan, padahal pola makan juga berperan besar.

“Bisa merusak hormon kewanitaan karena tubuh selalu dalam mode darurat, dia bisa mematikan hormon yang nggak penting buat mempertahankan kehidupan kayak hormon reproduksi. Jadi jangan kaget kalau mens kamu nggak teratur,” ujar Natasya.

Baca Juga: Florian Wirtz: Kami Harus Penuh Energi dan Komitmen 90 Menit Penuh Lawan PSG, Jika Tidak, Kami Tidak Akan Memiliki Peluang

Jika kebiasaan menunda makan hingga gemetar dilakukan selama bertahun-tahun, risiko gangguan metabolik juga meningkat.

Tubuh yang terus mengalami lonjakan dan penurunan gula darah ekstrem berisiko mengalami resistensi insulin.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi prediabetes, bahkan diabetes tipe 2.

Padahal, gemetar akibat lapar sebenarnya bisa dicegah.

Melansir healthfully.com, salah satu cara paling sederhana adalah menjaga jadwal makan yang teratur dan tidak menunggu tubuh memberi sinyal ekstrem.

Baca Juga: Amad Diallo Dukung Michael Carrick Sebagai Pelatih Manchester United Secara Permanen

Mengonsumsi makanan dengan kombinasi karbohidrat, protein, dan lemak sehat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.

Bagi sebagian orang, makan dalam porsi kecil tapi lebih sering justru lebih aman dibanding menunda makan terlalu lama.

Mendengarkan sinyal lapar sejak awal jauh lebih baik daripada memaksa tubuh masuk ke mode darurat. 

Tubuh yang diperlakukan dengan baik justru akan bekerja lebih optimal, termasuk dalam menjaga berat badan dan kesehatan jangka panjang. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Menunda makan #Gemetar Baru Makan #metabolisme #lapar #bahaya