Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dinkes Gunungkidul Temukan 11 Kasus Campak, Penderita Sudah Isolasi selama 28 Hari

Yusuf Bastiar • Senin, 9 Maret 2026 | 22:50 WIB

 

Ilustrasi Wabah Campak.
Ilustrasi Wabah Campak.
 

GUNUNGKIDUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul menemukan 11 kasus campak sejak awal tahun 2026. Meski ada temuan kasus, penyebarannya masih tergolong landai sehingga belum ada penetapan status kejadian luar biasa (KLB).

Hingga kini 11 penderita sudah melakukan perawatan secara isolasi. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gunungkidul Wanda Abrar mengatakan, hingga saat ini jumlah penderita campak di Bumi Handayani masih terbatas.

"Masih landai kasusnya. Hingga sekarang baru ada 11 pasien yang dinyatakan terkena campak,” ujarnya saat dihubungi, Senin sore (9/3). Menurut Wanda, seluruh pasien yang terkonfirmasi telah menjalani isolasi guna mencegah penularan.

Dinas Kesehatan juga melakukan pemantauan terhadap pasien selama 28 hari. Berdasarkan hasil pengawasan yang telah dilaksanakan, lanjut dia, menunjukkan tidak ada penularan lanjutan dari pasien yang bersangkutan. Ia menjelaskan, dibandingkan tahun lalu jumlah kasus campak di Gunungkidul justru lebih sedikit.

“Pada 2025 lalu tercatat ada 17 warga yang dinyatakan positif campak,” terangnya. Karena itu, hingga kini pemerintah daerah tidak menetapkan status KLB untuk penyakit tersebut. Meski penyebarannya relatif terkendali, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan.

Wanda menyebut, gejala awal campak biasanya ditandai dengan demam tinggi disertai batuk serta munculnya ruam atau bintik-bintik kemerahan di tubuh. “Kalau muncul gejala itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” tambahnya.

Selain itu, penderita juga diimbau menggunakan masker untuk mengurangi risiko penularan kepada orang lain. Langkah pencegahan lain yang perlu dilakukan adalah menjaga kebersihan, terutama dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun.

Dinas Kesehatan juga terus menggalakkan program imunisasi campak guna menekan potensi penyebaran penyakit tersebut. “Imunisasi ini penting untuk mencegah penularan sehingga kasusnya tidak bertambah,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Ismono mengatakan, upaya pencegahan penyakit terus dilakukan melalui berbagai program edukasi kesehatan kepada masyarakat. Salah satunya melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dengan melibatkan kader kesehatan di tingkat kalurahan.

Menurut Ismono, penerapan pola hidup bersih dan sehat menjadi kunci penting dalam menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang penyakit. “Penerapan PHBS, rutin berolahraga, serta mengonsumsi makanan bergizi sangat penting untuk menjaga kesehatan. Kalau kondisi tubuh fit, maka tidak mudah terserang penyakit,” ujarnya.

Ia menegaskan, pencegahan tetap menjadi langkah terbaik dalam menjaga kesehatan masyarakat. Lebih baik mencegah daripada mengobati. "Jadi masyarakat perlu menjaga kesehatan dengan pola hidup bersih dan sehat agar tidak mudah terserang penyakit,” tandasnya. (bas/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Dinkes gunungkidul #campak #Gunungkidul #isolasi #kasus campak #landai #Dinas Kesehatan (Dinkes)