Dari anak sekolah hingga para pekerja kantoran sudah terbiasa berjalan kaki setiap hari karena adanya budaya yang membentuknya sejak lama. Kebiasaan ini sangat berbeda dengan Indonesia yang kendaraan bermotor jadi pilihan utama meskipun jaraknya dekat.
Di Jepang, jalan kaki justru menjadi cara paling praktis untuk berpindah tempat. Transportasi umum yang tidak banyak membuat warga harus berjalan kaki dari rumah menuju stasiun, berpindah peron, hingga menuju tujuan akhir.
Menurut Nexs.co, penggunaan kendaraan pribadi di Jepang tidak sepopuler di negara lain karena biaya kepemilikan mobil, dan juga mahalnya biaya untuk membuat surat izin berkendara, dimana kondisi ini membuat jalan kaki dan transportasi umum menjadi pilihan sehari-hari.
Kebiasaan berjalan kaki di Jepang sudah dimulai sejak usia dini. Anak-anak sekolah dasar terbiasa pergi dan pulang sekolah dengan berjalan kaki secara berkelompok tanpa diantar orang tua. Lingkungan yang aman dan tertib membuat hal ini menjadi praktik umum.
Goikuzo menyebutkan bahwa kebiasaan tersebut membentuk karakter mandiri dan disiplin. Karena sudah terbiasa sejak kecil, berjalan kaki tidak lagi dianggap sebagai beban saat dewasa. Bahkan pemerintah juga membantu dengan cara memasukan pelajaran sosial tentang mengamati lingkungan sekitar ke kurikulum mereka.
Ada faktor lain yang membuat orang Jepang nyaman berjalan kaki adalah fasilitas dan tata kotanya. Trotoar di Jepang bersih dan juga tertata. Beautynesia menyebukan bahwa kenyamanan lingkungan itu yang membuat jalan kaki di Jepang terasa aman dan menyenangkan, bahkan di kawasan padat sekalipun.
Tidak banyak gangguan di trotoar, seperti sampah bahkan pedagang, sehingga pejalan kaki bisa bergerak dengan leluasa. Di Jepang harga taksi juga mahal jadi jalan kaki adalah pilihan utamanya.
Masyarakat Jepang tidak selalu menganggap jalan kaki sebagai olahraga. Jalan kaki lebih dianggap sebagai bagian dari rutinitas tanpa perlu waktu khusus.
Bodimax juga menyebutkan bahwa budaya jalan kaki di Jepang itu memperhatikan cara jalan yang benar sehingga jalan kaki juga memberi kualitas hidup yang lebih baik.
Sangat berbeda dengan Jepang, banyak kota di Indonesia belum sepenuhnya ramah bagi pejalan kaki. Trotoar sering sempit, rusak, digunakan untuk berjualan, atau kegiatan lainnya Maka dari itu jalan kaki belum bisa jadi pilihan utama mobilitas masyarakat.
Penulis: Kinesha Puspa Adilla
Editor : Bahana.