RADAR JOGJA - Selebgram Lula Lahfah meninggal dunia diduga karena sakit yang dideritanya.
Kekasih Reza Arap itu ditemukan meninggal dunia tergeletak di atas kasur apartemen di sebuah apartemen kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan pada Jumat (23/1/2026) sekitar pukul 19.20 WIB.
Sebelumnya, Lula Lahfa pernah mengeluhkan bahwa dirinya menderita sejumlah penyakit.
Mulai infeksi saluran kemih (ISK) hingga asam lambung kronis (Gerd).
Kondisi ini Lula rasakan sudah sejak lama, dalam sebuah tayangan live di TikTok pribadinya, dia mengaku bahwa dirinya kurang minum air putih maupun sering telat makan.
Ia takut, jika banyak minum air putih, jadi sering bolak-balik kencing ke toilet.
Hal ini akan mengganggu aktivitasnya.
"Bahkan aku sering nahan pipis, aku jadi nggak berani banyak minum bawaannya pengen pipis," ungkapnya dalam sebuah tayangan live medsosnya.
Karena sering menahan pipis, penyebab ia terkena ISK.
Demikian pada penyakitnya Gerd, ia mengaku sering telat makan.
Jika aktivitas pada ia juga kerap lupa makan dan cenderung memakan camilan ringan dibandingkan makan makanan berat.
Lantas ia mengeluhkan perih di dada, rasa panas di tenggorokan hingga mual.
Keluhan tersebut, oleh Lula, sering dianggap sebagai gangguan asam lambung biasa.
Hal ini justru bisa berakibat fatal terhadap kesehatan tubuh.
Keluhan Perih di Dada, Rasa Panas di Tenggorokan hingga Mual
Kondisi tersebut sering dianggap hal biasa.
Namun jika kondisi tersebut muncul berulang dan berlangsung dalam waktu lama, keluhan dapat mengarah pada Gastroesophageal Reflux Disease (Gerd).
Gerd merupakan gangguan pencernaan kronis yang dapat memengaruhi aktivitas dan kualitas hidup penderitanya.
Melansir pada Halodoc, Gerd merupakan kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan akibat melemahnya katup antara lambung dan esofagus.
Naiknya asam lambung ini dapat menimbulkan sensasi panas di dada atau dikenal sebagai heartburn, rasa pahit di mulut, mual, hingga nyeri ulu hati.
Pada sebagian penderita, keluhan juga dapat disertai dengan batuk kering atau rasa mengganjal di tenggorokan.
Gejala Gerd tidak selalu muncul setelah makan dalam jumlah banyak.
Keluhan dapat timbul saat berbaring, membungkuk, atau setelah mengonsumsi makanan dan minuman tertentu, seperti makanan berlemak, pedas, asam, kopi, serta minuman bersoda.
Jika dibiarkan, Gerd berisiko menyebabkan iritasi pada dinding kerongkongan.
Melansir pada Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pola hidup dan kebiasaan sehari-hari menjadi salah satu faktor yang berperan dalam munculnya Gerd.
Kebiasaan makan tidak teratur, langsung berbaring setelah makan, merokok, serta stres berlebih dapat meningkatkan risiko naiknya asam lambung.
Selain itu, kelebihan berat badan juga disebut dapat memberikan tekanan lebih pada lambung.
Dari sisi penanganan, Gerd umumnya ditangani melalui kombinasi perubahan gaya hidup dan pemberian obat sesuai anjuran tenaga medis.
Penyesuaian pola makan, menjaga jarak waktu antara makan dan tidur, serta menghindari pemicu asam lambung menjadi bagian dari upaya pengelolaan kondisi ini.
Peningkatan kasus gangguan lambung, termasuk Gerd, kerap dikaitkan dengan gaya hidup modern yang serba cepat.
Pola makan tidak teratur serta tingginya tingkat stres disebut menjadi faktor yang banyak ditemui pada masyarakat perkotaan.
Oleh karena itu, edukasi mengenai Gerd dinilai penting agar masyarakat dapat mengenali gejala sejak dini.
Keluhan asam lambung yang terjadi terus-menerus sebaiknya tidak diabaikan.
Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan apakah gejala yang dialami masih tergolong asam lambung biasa atau sudah mengarah pada Gerd.
(Salwa Caesy)
Editor : Meitika Candra Lantiva