BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul mencatat sebanyak 155 kasus HIV/AIDS tahun ini. Jumlah tersebut tersebar merata di seluruh kapanewon.
Kepala Dinkes Bantul Agus Tri Widyantara mengatakan, tiga tahun terakhir ada penurunan jumlah pengidap HIV/AIDS. Pada 2023 tercatat ada 180 kasus, dan turun menjadi 169 kasus pada 2024.
“Mereka rata-rata paling banyak rentang usia 20-29 tahun, ada juga yang 40-49 tahun,” bebernya saat ditemui di kantornya Selasa (30/12).
Menurutnya, banyak kasus HIV/AIDS berada di usia produktif karena gaya hidup anak muda yang berhubungan seksual dengan tidak aman. “Kemungkinan ya,” lontarnya.
Selain itu, penggunaan jarum suntik secara bersamaan juga dapat memicu tertularnya penyakit tersebut. Kini, Dinkes Bantul terus melakukan edukasi terkait dengan perilaku yang bisa mencegah HIV/AIDS sebagai upaya penanggulangan. Skrining terhadap populasi rentan dengan komunitas pemerhati HIV/AID juga turut dilakukan.
Pemeriksaan HIV/AIDS, lanjutnya, juga bisa dilakukan di puskesmas, laboratorium milik Pemkab Bantul, maupun RSUD Panembahan Senopati.
Sementara itu, Direktur RSUD Panembahan Senopati Atthobari mengatakan, penanganan HIV/AIDS di rumah sakit yang dipimpinnya dapat menggunakan Care, Support, and Treatment (CST). CST adalah layanan komprehensif untuk orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Mencakup perawatan medis, dukungan psikososial, konseling, dan pengujian sukarela, serta pendampingan untuk memastikan kepatuhan pengobatan dan pencegahan penularan.
“Tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA dan keluarga melalui pendekatan yang nyaman, aman, dan menjaga kerahasiaan,” bebernya.
RSUD Panembahan Senopati juga bekerjasama dengan layanan HIV/AIDS lain seperti Puskesmas dan layanan pendamping sebaya. “Untuk dapat mencegah HIV/AIDS bisa menerapkan konsep ABCD,” katanya.
ABCD sendiri, memiliki masing-masing arti. Yakni A atau abstinence, tidak melakukan hubungan seks berisiko. Seperti seks di luar nikah, gonta-ganti pasangan, maupun sesama jenis. Kemudian B atau be faith yang berarti harus setia dengan pasangan.
“C artinya condom, yakni bagi yang melakukan hubungan seks berisiko untuk pasien yang sudah tertular HIV, dan D memiliki arti drug jadi rutin minum obat antiretroviral bagi yang sudah positif HIV,” bebernya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita