Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menu MBG Libur Sekolah Jadi Ciki-cikian, Pengamat: Dalam Jangka Panjang Berisiko Penyakit Kronis

Fahmi Fahriza • Senin, 29 Desember 2025 | 15:30 WIB
Pengamat Gizi, Pakar kesehatan masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yang juga Anggota Divisi Pelayanan Kesehatan, Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Dr. dr. Merita Arini
Pengamat Gizi, Pakar kesehatan masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yang juga Anggota Divisi Pelayanan Kesehatan, Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Dr. dr. Merita Arini

 

 

 

Pengamat gizi dan pakar kesehatan masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dr. dr. Merita Arini menilai, keberlanjutan program MBG selama libur sekolah memang menunjukkan komitmen negara.

Namun, pergeseran menu perlu dicermati. "Namun, ketika menu yang dibagikan bergeser menjadi biskuit dan roti kemasan, kita tidak bisa tidak, harus bersikap lebih kritis," ujarnya, Minggu (28/12).

Anggota Divisi Pelayanan Kesehatan Majelis Kesehatan PP Aisyiyah itu menjelaskan, dalam berbagai literatur gizi, biskuit dan roti kemasan termasuk dalam kategori ultra-processed food (UPF) dan nutrient-poor food.

Makanan jenis ini umumnya tinggi kalori namun rendah zat gizi esensial. "Biskuit dan roti kemasan memang enak, tinggi energi, tetapi rendah protein, serat, dan mikronutrien esensial," katanya.

Kondisi ini berpotensi menimbulkan fenomena kenyang semu. Karena anak merasa telah makan cukup, padahal asupan zat gizinya belum terpenuhi. "Anak merasa kenyang, tapi yang terjadi sesungguhnya kenyang semu akibat empty calories, yaitu kalori yang mengisi perut tanpa memberikan manfaat gizi yang bermakna," jelasnya.

Dia mengingatkan pembiasaan konsumsi makanan UPF dalam beberapa pekan saja dapat meningkatkan risiko hidden hunger. Yakni kekurangan mikronutrien yang tidak tampak secara kasat mata.

Defisit gizi ini berpotensi berdampak pada konsentrasi belajar menurun, daya tahan tubuh melemah, gangguan perkembangan jangka panjang. Hingga risiko obesitas dan penyakit kronis di kemudian hari

"Anak bisa terlihat sehat dan aktif, tetapi sebenarnya mengalami defisit zat gizi penting seperti zat besi, zinc, kalsium, serta vitamin A dan C," ulasnya.

Jika mengacu pada angka kecukupan gizi (AKG), menu berbasis biskuit dan roti jelas tidak setara dengan makan utama bergizi seimbang. Menu berbasis biskuit dan roti maupun UPF sejenis tidak mampu memenuhi kebutuhan protein dan mikronutrien anak sekolah.

“Karena itu, menyamakan menu tersebut dengan makan bergizi seimbang adalah keliru secara ilmiah," katanya.

Ia menilai praktik normalisasi menu snack selama libur sekolah berpotensi menggeser tujuan program MBG. "MBG berisiko kehilangan dasar evidensinya sebagai intervensi kesehatan masyarakat dan bergeser menjadi sekadar program pembagian makanan gratis," tuturnya.

Selain itu, ia juga turut merekomendasikan agar pemerintah menyiapkan standar menu khusus saat libur sekolah, situasi bencana, distribusi nonreguler. Di samping itu, ahli gizi juga harus dilibatkan sejak perencanaan.

Ia mencontohkan praktik di berbagai negara, program makan sekolah yang berhasil selalu melibatkan ahli gizi secara aktif. "Peran ahli gizi perlu diperkuat secara sistematis dalam program MBG, bukan hanya sebagai pelengkap administratif," bebernya.

Di satu sisi, Merita juga memberi catatan khusus kepada orang tua ketika anak menerima MBG dalam bentuk biskuit atau roti. Ia menyarankan orang tua tetap melengkapi dengan sumber protein, sayur, buah. Agar anak tidak terus berada dalam siklus empty calories.

"Biskuit dan roti dari MBG bukan pengganti makan utama, melainkan pelengkap yang sangat terbatas," tuturnya. (iza/pra)

Editor : Heru Pratomo
#akg #roti #tinggi kalori #Mbg #ultra processed food #upf #UMY #biskuit #pakar kesehatan