Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Capaian Bangga Kencana DIY Lampaui Target, Peran Ayah hingga Stunting Jadi Sorotan

Magang Radar Jogja • Rabu, 17 Desember 2025 | 05:24 WIB
Wali Kota Jogja hasto wardoyo menjadi pembicara dalam evaluasi program Bangga Kencana
Wali Kota Jogja hasto wardoyo menjadi pembicara dalam evaluasi program Bangga Kencana

SLEMAN – Evaluasi capaian Program Bangga Kencana di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hingga November 2025 menunjukkan hasil yang signifikan dalam berbagai indikator kunci. Mulai dari penanganan stunting hingga optimalisasi peran ayah,. Evaluasi ini disampaikan oleh Kepala Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan BKKBN DIY Mohamad Iqbal Apriansyah,.

 

Dia mencontohkan, program unggulan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) berhasil melampaui target di sejumlah bidang, dengan tujuan utama mengoptimalkan peran ayah dalam menjawab fenomena fatherless. Melalui konseling pra nikah, saat menikah, dan saat memiliki anak. Salah satu capaian tertinggi adalah layanan konseling melalui Siap Nikah dan Satyagatra, yang mencapai 1.684 layanan, jauh melampaui target 330 atau 510,3 persen.

 Baca Juga: PSIM Jogja Krisis Kiper, Van Gastel Tetap Tenang jelang Laga Kontra Persijap Jepara

Selain itu, jumlah Ayah/Calon Ayah yang mendapat pengetahuan tentang pengasuhan anak dan pendampingan kelompok mencapai 22.284 orang dari target 15.161. "Sekarang juga sudah ada program ayah mengambil rapor anak, seperti di awal tahun pendidikan baru ayah mengantar anak ke sekolah," ungkapnya.

 

Sementara itu, program Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting (Genting), yang fokus pada intervensi keluarga rentan stunting, mencatat quick win yang substansial,. Capaian edukasi pencegahan dan penanganan stunting mencapai 20.588 kegiatan. Genting juga menyalurkan berbagai bantuan nutrisi, termasuk 2.417 bantuan untuk durasi kurang dari 3 bulan, dan 782 bantuan untuk durasi 3 bulan.

"Kolaborasi mitra kerja Genting di DIY didominasi oleh LSM/Komunitas sebanyak 488 mitra, dan berdasarkan wilayah, Gunungkidul mencatat jumlah mitra tertinggi," tuturnya.

Capaian Program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di DIY juga melampaui target secara keseluruhan, mencapai 128,11 persen. Kota Yogyakarta menjadi wilayah dengan persentase capaian tertinggi, yaitu 151,03 persen dari target.

 

Selain itu, program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) atau Daycare Unggul, berkolaborasi dengan berbagai lembaga pemerintah dan swasta, menyediakan pengasuh tersertifikasi, psikolog anak, dan dokter spesialis anak untuk laporan tumbuh kembang anak setiap bulan. Tamasya juga tercatat memiliki pengasuh yang berpartisipasi dalam program KERABAT (422) dan SIBIMA (183).

 

Di sektor Keluarga Berencana (KB), total pelayanan KB di DIY hingga November 2025 mencapai 219.026 layanan. Jumlah peserta KB Baru mencapai 20.820. "Dalam hal peserta KB aktif, kontrasepsi Suntik mendominasi persentase pemakaian sebesar 35 persen, diikuti oleh IUD sebesar 27 persen, dan Kondom sebesar 17 persen," jelasnya.

 Baca Juga: Sembilan ASN Ikut Seleksi Calon Sekda, Bupati dan Wabup Purworejo Pastikan Tak Cawe-Cawe

Untuk mendukung kesejahteraan keluarga secara digital, tersedia AI-SuperApps Tentang Keluarga yang menyediakan konsultasi problematika keluarga, merawat anak oleh Psikolog Anak, Konselor Laktasi, dan Dokter Spesialis Anak,.

 

Begitu pula dengan prgram Lansia Berdaya (SIDAYA) turut berkontribusi dengan menyediakan layanan homecare berbasis komunitas bagi orang tua yang tidak mendapatkan perawatan dari anak. Program ini juga menjamin bantuan dan pelayanan kesehatan gratis bagi lansia di Puskesmas dan RSUD tanpa memerlukan rujukan.

"Salah satu indikatornya, jumlah kader yang mendapat pelatihan pendampingan PJP telah melampaui target, mencapai 480 kader dari target 459 atau mencapai 104,58 persen," paparnya.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menjelaskan stunting dipengaruhi faktor sensitif dan spesifik. Faktor sensitif itu adalah suatu ekosistem yang ada di luar dan mempengaruhi stunting mencapai 70 persen. Sedangkan faktor spesifik adalah faktor dari dalam dan mempengaruhi stunting 30 persen. Faktor sensitif meliputi kemiskinan, pendidikan, air bersih dan sanitasi. Untuk faktor spesifik misalnya terkait kesehatan reproduksi, anemia, gizi, pemberian makanan tambahan atau nutrisi.

“Lingkungan yang tidak layak huni itu adalah salah satu yang harus kita perhatikan untuk mencegah stunting. Kalau hari ini kita bicara Genting gerakan orangtua asuh cegah stunting, maka jangan lupakan bukan hanya makanan saja yang dipikirkan. Tetapi juga lingkungan itu penting sekali,” kata Hasto.

Menurutnya lingkungan kumuh atau kotor seperti air yang mengandung bakteri e-colli bisa mempengaruhi kesehatan. Untuk mencegah stunting, lingkungan harus bagus misalnya penyediaan air bersih. Oleh sebab itu Hasto memohon dukungan dari DIY dan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN untuk pembenahan lingkungan agar sanitasi menjadi baik.

Membacakan sambutan Gubernur DIY, Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X menyampaikan bahwa pembangunan kependudukan dan keluarga di DIY tidak terlepas dari semangat gotong royong dan kolaborasi lintas sektor. Upaya tersebut menjadi investasi jangka panjang untuk mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

 Baca Juga: Kritik Menggelitik dalam Pameran Tunggal Ojo Urik, Alex Pracaya Tampilkan Praktik Kecurangan Sederhana yang Biasa Disepelekan

"Perjalanan panjang pembangunan kependudukan dan keluarga di Yogyakarta tidak pernah lepas dari semangat gotong royong dan kolaborasi seluruh pihak. Dari upaya penurunan angka stunting, penguatan peran keluarga, hingga respons terhadap bonus demografi, setiap langkah yang kita ambil adalah investasi untuk mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas," terangnya.

 

 

Editor : Heru Pratomo
#BANGGA KENCANA #Ayah Teladan #hasto wardoyo #paku alam x #kemendukbangga #BKKBN