Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kasus TBC Terus Bertambah, Dinkes Catat 229 Kasus Menyerang Anak-anak: Ini Penyebabnya..

Iwan Nurwanto • Jumat, 28 November 2025 | 04:25 WIB
SOSIALISASI: Dinas Kesehatan DIJ Menggelar Sosialisasi Dukungan Umpan Balik Pasien TBC di Kantor Dinas Kesehatan DIJ, Rabu (27/9).Winda Atika Ira P / Radar Jogja
SOSIALISASI: Dinas Kesehatan DIJ Menggelar Sosialisasi Dukungan Umpan Balik Pasien TBC di Kantor Dinas Kesehatan DIJ, Rabu (27/9).Winda Atika Ira P / Radar Jogja

JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja mencatat sebanyak 1.161 kasus tuberkulosis (TBC) hingga pertengahan November.

Dari jumlah itu, sekitar 19,8 persen atau 229 jiwa merupakan penderita anak-anak. Tak hanya anak, sisanya juga menyerang penderita dewasa.

Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan,  berdasarkan data, kasus yang menyerang anak maupun dewasa mengalami kenaikan cukup signifikan.

Pasalnya, pada rentang Januari-Oktober ditemukan 900 kasus TBC dengan 117 penderita anak-anak. Artinya, ada kenaikan 261 kasus dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.

"TBC bisa menular lewat udara, dan siapa pun bisa tertular," ujar Endang saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Kamis (27/11/2025).

Endang mengungkap, anak-anak rawan terpapar bakteri mycobacterium tuberculosis

Apalagi jika merupakan penderita gizi buruk, stunting, dan berat badan rendah.

Sementara untuk dewasa, TBC cenderung menyerang perokok, penderita penyakit diabetes, HIV, dan orang yang menerapkan gaya hidup tidak sehat. Kondisi rumah yang lembab, minim ventilasi, dan kurang cahaya matahari diketahui juga meningkatkan risiko penularan TBC.

“Rumah tidak layak huni sangat berisiko, karena bakteri TBC menyukai tempat lembab dan gelap,” bebernya.

Meskipun kasus TBC pada anak mendekati seperlima keseluruhan kasus di Kota Jogja, hal tersebut diklaim bukan masalah besar.

Sebab kasus TBC di Kota Jogja terdata untuk diobati. Melalui pasien yang sudah terdata itu, dinkes pun bisa melakukan pencegahan secara optimal.

“Karena kontak erat dapat terlacak dan diberikan terapi pencegahan TBC (TPT),” jelasnya.

Menurutnya, untuk mengurangi tingkat keparahan TBC pada anak bisa dilakukan dengan vaksinasi bacillus calmette-guérin (BCG) sejak bayi berusia satu bulan.

Efektivitasnya diklaim mencapai 60-70 persen dalam mengurangi fatalitas kasus TBC berat.

 Baca Juga: Manfaatkan Jeda Kompetisi, PSS Sleman Rekatkan Hubungan dan Gelar Fun Football Bersama Suporter

Kemudian untuk pengobatan TBC, wajibnya membutuhkan waktu minimal enam bulan dan setiap hari tanpa putus.

Namun ironisnya, mayoritas pasien cenderung berhenti pengobatan sebelum jangka waktu tersebut karena merasa sudah sehat.

“Apalagi dari total 1.161 kasus, hanya sekitar 590 kasus yang beralamat di Kota Jogja,” beber Endang.

 Baca Juga: Jadi Top Skor Sementara, Gustavo Tocantins Tak Mau Besar Kepala

Pada tingkat wilayah, Programer TBC Puskesmas Umbulharjo II Rini mengungkapkan, terdapat empat pasien TBC yang masih menjalani pengobatan di wilayahnya.

Guna mencegah pertambahan kasus, pihaknya rutin melakukan edukasi tentang gerakan masyarakat hidup sehat (Germas).

“Kami juga disiplin dalam hal pengobatan yang terus diberikan kepada pasien,” katanya. (inu/wia)

 

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#tuberkulosis #tbc #Dinkes Kota Jogja #BCG #gizi buruk #kasus bertambah