Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Satu dari Empat Remaja Puteri Anemia, Dinkes Gunungkidul Siapkan 1,2 Juta Tablet Zat Besi

Yusuf Bastiar • Rabu, 19 November 2025 | 12:05 WIB

 

 

 

Peringatan HKN di Terminal Induk Dhaksinarga Gunungkidul membagikan tablet tambah darah pada 500 remaja tingkat SMP dan SMA.
Peringatan HKN di Terminal Induk Dhaksinarga Gunungkidul membagikan tablet tambah darah pada 500 remaja tingkat SMP dan SMA.

 

GUNUNGKIDUL – Hasil skrining yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul menemukan satu dari empat remaja puteri mengalami anemia. Dari 9.674 remaja putri diperiksa yang melakukan skrining sepanjang 2025, tercatat 2.209 di antaranya terdeteksi mengalami anemia. Angka ini setera dengan 25,3 persen.

Kepala Dinkes Gunungkidul Ismono mengatakan, konsumsi tablet tambah darah (TTD) minimal satu kali per minggu menjadi upaya krusial dalam menjaga kesehatan remaja putri. Aksi tersebut melibatkan 500 pelajar SMP dan SMA. Menurutnya, ini menjadi langkah strategis menekan kasus anemia, mengingat prevalensinya masih berada pada kisaran 20-28 persen.

Remaja puteri, kata dia, mengalami menstruasi setiap bulan sehingga berisiko tinggi mengalami anemia. “Jika tidak dicegah sejak dini, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan saat mereka memasuki usia pernikahan dan kehamilan,” jelas Ismono saat ditemui di Terminal Dhaksinarga Selasa (18/11).

Ismono menegaskan pencegahan anemia merupakan bagian dari upaya jangka panjang menekan risiko bayi lahir stunting. Ia menilai, calon ibu yang sehat memiliki peluang lebih besar melahirkan generasi yang sehat pula. Ia juga menegaskan upaya tersebut sebagai langkah pencegahan stunting sejak dini.

“Kami khususkan untuk remaja perempuan, karena merekalah yang kelak akan melahirkan generasi masa depan,” ujarnya.

Dinkes Gunungkidul menyediakan stok 1.282.300 tablet zat besi, mencakup kebutuhan ibu hamil hingga remaja putri. Tablet ini merupakan bantuan pusat dan didistribusikan melalui seluruh puskesmas.

Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan juga dilakukan untuk memastikan tablet benar-benar dikonsumsi siswa melalui mekanisme pemantauan berjenjang. “Itu untuk sasaran ibu hamil 5.000 orang kali 180 tablet dan juga untuk remaja putri,” tuturnya.

Berkaitan anemia dengan stunting, kini Gunungkidul masih menghadapi tantangan giz. Nutrisionis Dinas Kesehatan Gunungkidul, Elinda Wahyu Pertiwi melaporkan pada semester I tahun 2025 dilakukan pengukuran tinggi dan panjang badan pada balita di 30 puskesmas.

Ia mengungkapkan dari 30.311 balita yang hadir ke layanan atau sekitar 91,65 persen dari total 33.073 balita, ditemukan 4.917 anak masih mengalami stunting. “Upaya pencegahan anemia pada remaja putri dan pemenuhan gizi ibu hamil memiliki kaitan erat dengan penurunan angka stunting di masa depan,” tegasnya.

 

Selain itu, kata Elinda, wilayah dengan persentase stunting tertinggi berada di Playen II, Patuk I, dan Karangmojo II, sementara Kapanewon Purwosari menjadi wilayah dengan angka stunting terendah, yakni 7,91persen.

Ia menyebut prevalensi anemia yang mencapai seperempat dari total remaja putri membuat angka stunting masih perlu ditekan. Ia menegaskan komitmennya untuk memperkuat berbagai program gizi pada generasi muda. 

“Intervensi harus dimulai jauh sebelum kehamilan, salah satunya melalui suplementasi zat besi sejak remaja,” imbuhnya. (bas/pra)

Editor : Heru Pratomo
#anemia #skrining #menstruasi #dinkes #zat besi #Gunungkidul #Terminal Dhaksinarga #Tablet Tambah Darah #calon ibu #REMAJA PUTERI #Ismono