Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pakar Global di UGM: 75% Penyakit Baru dari Hewan, Kolaborasi Dokter Hewan dan Manusia Jadi Kunci

Iwa Ikhwanudin • Selasa, 11 November 2025 | 17:54 WIB
Ilustrasi penyakit yang menyebar diakibatkan oleh hewan.
Ilustrasi penyakit yang menyebar diakibatkan oleh hewan.

JOGJA – Ancaman global mulai dari pandemi, kerawanan pangan, hingga perubahan iklim kini saling berkaitan dan memperparah risiko penularan penyakit lintas spesies.

Fakta menunjukkan, sebanyak 75 persen ancaman penyakit menular baru bersifat zoonosis (berasal dari hewan) yang berdampak serius bagi manusia, hewan, dan lingkungan.

Untuk menghadapi tantangan ini, peningkatan kompetensi, komunikasi, dan kolaborasi antara dokter hewan dengan dokter manusia melalui pendekatan One Health (Satu Kesehatan) menjadi sebuah keharusan.

Hal tersebut mengemuka dalam International Conference on Advanced Veterinary Science and Technologies for Sustainable Development (3rd ICAVESS 2025) yang dihelat di Gadjah Mada University Club (UC) Hotel, Jumat (7/11/2025).

Peneliti dari University of Sydney, Australia, Prof Jenny-Ann, menjelaskan bahwa konsep One Health sejatinya telah berakar dari pemikiran kedokteran sejak abad ke-5 SM.

Ia menekankan empat pilar utama untuk mewujudkannya, yakni komunikasi, koordinasi, pembangunan kapasitas, dan kolaborasi.

Menurutnya, tenaga veteriner (dokter hewan) membutuhkan dua jenis kompetensi untuk menjawab tantangan global ini.

“Terdapat dua kompetensi yaitu teknis dan non-teknis yang keduanya merupakan hal penting untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan menjadi tindakan One Health,” jelas Jenny-Ann.

Kompetensi teknis meliputi kemampuan epidemiologi, surveilans, dan respon cepat terhadap penyakit.

Sementara kompetensi non-teknis mencakup kepemimpinan, komunikasi, advokasi, dan kemampuan melibatkan masyarakat.

Ia juga menyoroti perlunya jalur berkelanjutan dalam membangun kapasitas One Health tanpa bergantung pada pendanaan eksternal.

“Masa depan One Health bergantung pada bagaimana integrasi kerja sama, visioner, dan tata kelola kolaboratif dijalankan,” katanya.

Pentingnya peningkatan kapasitas tenaga veteriner juga disoroti oleh Perwakilan dari World Organization for Animal Health (WOAH), Dr Hugo Federico.

Ia menegaskan komitmen WOAH dalam memperkuat jejaring lembaga pendidikan kedokteran hewan di kawasan Asia-Pasifik.

Fokusnya adalah melalui program pelatihan dan modul pembelajaran, terutama dalam isu krusial seperti Resistansi Antimikroba (AMR) dan kesiapsiagaan terhadap bencana.

“Kita perlu memperkuat jaringan regional, berbagi pengetahuan, dan membangun masa depan yang lebih tangguh bagi pendidikan dan layanan veteriner di Asia,” ujar Federico.

Apresiasi terhadap peran aktif UGM juga datang dari Presiden Southeast Asian Veterinary Schools Association (SEAVSA), Dr Khongsak Thiangtum.

Ia menilai UGM terus menunjukkan kepemimpinan akademik dan kolaborasi di tingkat kawasan Asia Tenggara.

“Kami yakin bahwa kolaborasi yang diwujudkan oleh berbagai pihak sangat penting dalam memperkuat pendidikan kedokteran hewan saat ini,” jelasnya.

Sebagai tuan rumah, UGM menyambut baik kolaborasi internasional ini. Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pembelajaran, Prof Dr Wening Udasmoro SS MHum DEA, menekankan bahwa semangat One Health adalah dasar penting dalam membangun masa depan yang sehat dan berkelanjutan.

“Dengan kerja sama dari para ahli, pendidik, dan peneliti dari berbagai latar belakang, (kita) mampu menciptakan jalur menuju pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, Prof drh Teguh Budipitojo MP PhD, turut menegaskan komitmen FKH UGM untuk terus memperkuat kerja sama antarnegara demi memajukan ilmu kedokteran hewan.

“Harapannya forum ini dapat menjadi langkah maju inovasi dan kerja sama bagi masa depan ilmu kedokteran hewan di kancah global,” jelas Teguh.

Konferensi internasional ini diselenggarakan oleh FKH UGM bekerja sama dengan Asian Association of Veterinary School (AAVS), WOAH, dan SEAVSA.

Acara ini menjadi wadah kolaborasi untuk mendorong inovasi sains, ketahanan pangan, serta kesejahteraan manusia dan hewan secara berkelanjutan. (iwa)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#kerawanan pangan #Perubahan Iklim #Pandemi #risiko penularan penyakit #penularan penyakit lintas spesies #ancaman global