RADAR JOGJA – Intermittent Fasting atau dikenal sebagai diet IF kini semakin populer di kalangan masyarakat urban yang ingin menurunkan berat badan dan memperbaiki gaya hidup.
Berbeda dengan diet konvensional, IF menitikberatkan pada waktu makan, bukan hanya pada jenis makanan yang dikonsumsi.
Namun, apakah metode ini benar-benar aman dan efektif?
Sejumlah riset terkini menunjukkan bahwa IF memang memiliki manfaat yang signifikan bagi kesehatan meski tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.
Apa Itu Diet IF?
Diet IF adalah metode pengaturan makan dengan cara berpuasa dalam durasi tertentu, diikuti oleh periode makan yang terbatas.
Tujuannya adalah memberi waktu bagi tubuh untuk mengistirahatkan sistem pencernaan, serta mengoptimalkan pembakaran lemak sebagai sumber energi utama.
Terdapat beberapa metode IF yang umum dilakukan, seperti:
1. Metode 16:8 dengan cara berpuasa selama 16 jam, lalu makan dalam jendela 8 jam.
2. Metode 5:2 dengan cara lima hari makan normal, dua hari lainnya membatasi kalori hingga sekitar 500–600 kkal.
3. Metode Eat-Stop-Eat dengan cara puasa selama 24 jam, dilakukan 1–2 kali seminggu.
Sejumlah penelitian ilmiah telah mengkaji manfaat diet IF, dan hasilnya cukup menjanjikan. Berikut beberapa temuan utama:
1. Efektif menurunkan berata badan
Diet IF dapat menurunkan berat badan sebesar 3 hingga 8 persen dalam jangka waktu 3 sampai 24 minggu.
Selain itu, lemak visceral (lemak perut) juga berkurang secara signifikan, jenis lemak ini berkaitan erat dengan risiko penyakit jantung.
2. Meningkatkan sensitivitas insulin
IF dapat membantu menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin.
Hal ini penting untuk pencegahan diabetes tipe 2, terutama di tengah meningkatnya prevalensi penyakit tersebut.
Menurunkan tekanan darah dan kolestrol
3. Mendukung Regenerasi Sel Lewat Autophagy
IF mengalami penurunan tekanan darah, kadar kolesterol LDL, serta trigliserida.
Efek ini berkontribusi pada menurunnya risiko penyakit jantung dan stroke.
4. Potensi Dampak Positif pada Otak
Salah satu proses biologis penting yang terjadi selama puasa adalah autophagy, yaitu proses daur ulang sel-sel rusak.
Meskipun sebagian besar penelitian ini masih dilakukan pada hewan, sejumlah studi kecil pada manusia menunjukkan bahwa IF dapat memicu peningkatan aktivitas autophagy, yang diyakini berperan dalam pencegahan kanker dan penuaan dini.
5. Potensi Dampak Positif pada Otak
IF juga memiliki efek neuroprotektif, termasuk peningkatan fungsi kognitif dan perlambatan proses degeneratif pada otak.
Namun, temuan ini masih bersifat awal dan memerlukan uji klinis lebih lanjut.
Meskipun banyak manfaat positif, namun diet IF tidak cocok untuk semua orang, seperti orang yang memiliki riwayat diabetes, gangguan makan, ibu hamil dan menyusui, atau mereka yang memiliki tekanan darah rendah, sebaiknya berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum mencoba IF.
Bagi kalian pemula yang ingin mencoba diet IF ini, mulailah dengan cara bertahap, misalnya dengan melakukan puasa dengan waktu yang tidak terlalu lama terlebih dahulu.
Tetap perbanyak mengonsumsi air putih selama puasa dan hindari minuman ber kalori dan tinggi gula.
Serta pilih makanan yang mengandung tinggi protein, serat, dan gizi lainnya yang diperlukan tubuh. (Alya Amirul Khasanah)
Editor : Meitika Candra Lantiva