MUNGKID –Kabupaten Magelang menghadapi masalah darurat gizi balita. Berdasarkan data dinas kesehatan (dinkes) setempat, dari 72.603 balita, sebanyak 52.460 anak atau lebih dari 70 persen mengalami berbagai masalah gizi, mulai dari berat badan rendah, gizi buruk, hingga stunting.
Sekretaris Dinkes Kabupaten Magelang Oktora Kunto Edhy mengutarakan, angka tersebut menggambarkan masih tingginya tantangan pemenuhan gizi anak di wilayahnya. Dari total anak bermasalah gizi itu, 10.816 balita tercatat mengalami stunting.
Baca Juga: Gubernur DIY Hamengku Buwono X Tak Permasalahkan Penurunan TKD, Akan Optimalisasi PAD melalui Pajak Daerah
Kemudian, 33.402 balita memiliki berat badan rendah, 5.850 mengalami gizi kurang, dan 77 lainnya masuk kategori gizi buruk. "Ini menunjukkan intervensi gizi harus lebih terarah dan menyentuh akar masalah, bukan hanya gejala," kata Kunto, Selasa (14/10).
Meski demikian, dia menyebut, upaya kolaboratif berbagai pihak mulai menunjukkan hasil positif. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kabupaten Magelang berhasil turun dari 22,8 persen pada 2023 menjadi 19,3 persen pada 2024.
Bahkan melalui pencatatan gizi elektronik di tingkat masyarakat, angka itu tercatat 14,58 persen pada akhir tahun lalu. Menurutnya, penyebab stunting dan masalah gizi bersifat kompleks, meliputi kurangnya asupan makanan bergizi selama 1.000 hari pertama kehidupan, pola asuh yang belum tepat, sanitasi buruk, dan keterbatasan layanan kesehatan.
Baca Juga: Tiga Depo di Kota Jogja Belum Dikosongkan, 150 Ton Sampah Masih Tertahan
Karena itu, dinkes menerapkan dua pendekatan sekaligus. Yakni intervensi spesifik, seperti pemberian makanan tambahan, imunisasi, dan suplementasi gizi bagi ibu hamil dan balita. Lalu, intervensi sensitif, seperti penyediaan air bersih, sanitasi layak, edukasi pola asuh, serta pemberdayaan ekonomi keluarga.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Magelang Nanda Cahyadi Pribadi menyebut, berdasarkan data per Desember 2024, dari 52.640 balita yang bermasalah gizi, baru sekitar 10.609 anak atau 20 persen yang mendapat intervensi langsung melalui berbagai program pemerintah.
"Ini menjadi alarm bagi kita semua agar bekerja lebih masif, terarah, dan kolaboratif," imbuhnya.
Baca Juga: Ini Pemilik dan Sejarah Stasiun Televisi Trans7 Yang Viral #BOIKOTTRANS7 Dari Kontroversi hingga Konglomerasi Chairul Tanjung
Pemkab Magelang, lanjut Nanda, telah mengintegrasikan percepatan penurunan stunting ke dalam Sapta Cipta Pembangunan, terutama pilar 'Sehat Wargane' yang berfokus pada peningkatan layanan kesehatan ibu, anak, dan gizi balita.
Nanda juga menegaskan, keberhasilan program penurunan stunting sangat bergantung pada sinergi pemerintah daerah, tenaga kesehatan, lembaga sosial keagamaan, serta kesadaran masyarakat. "Gizi bukan sekadar urusan dapur, tapi soal masa depan generasi," tegasnya. (aya/pra)