Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Lana Unwanah mengatakan, ada 350 perempuan yang menjadi sasaran imunisasi ini.
Mereka merupakan perempuan berusia 11 sampai 15 tahun.
Lana menjelaskan, perempuan di luar sekolah adalah anak-anak yang tidak menjalani sekolah formal. Misalnya menjalani homeschooling, tinggal di panti sosial, panti asuhan dan anak disabilitas perempuan yang terkadang memang memilih tidak bersekolah.
Untuk kegiatan imunisasi Human Papilomma Virus (HPV) sasaran anak perempuan di luar sekolah itu, akan dilakukan oleh petugas puskesmas di masing-masing wilayah.
Kegiatannya selama Agustus dan menyesuaikan jadwal masing-masing fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).
"Bisa dilakukan di puskesmas, balai RW, atau kelurahan,” ujar Lana saat dikonfirmasi lewat telepon, Jumat (8/8/2025).
Sejak digulirkannya imunisasi HPV pada 2019 lalu, menurut Lana, memang baru tahun ini dilaksanakan kegiatan yang menyasar anak-anak perempuan diluar sekolah.
Inovasi itu dilakukan agar para perempuan bisa tetap mendapatkan perlindungan yang sama, apa pun latar belakangnya.
Kemudian di luar itu, bagi anak perempuan yang berdomisili di luar Kota Jogja namun bersekolah di dalam kota, juga tetap menjadi sasaran.
Adapun secara keseluruhan jumlah sasaran imunisasi anak sekolah di Kota Jogja 4.199 anak. Meliputi siswa kelas 5,6 dan 9 di sekolah negeri maupun swasta.
"Kami berharap orang tua memanfaatkan program imunisasi HPV gratis yang disediakan pemerintah,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Seksi Pengendalian Pencegahan Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Kota Jogja Iva Kusdyarini menyampaikan, awal tahun lalu sudah ada 104 perempuan yang terdiagnosa kanker serviks.
Jumlah itu merupakan pasien yang memeriksakan diri di fasyankes Kota Jogja.
Iva menyebut, faktor penyebab kanker serviks beragam. Bisa dikarenakan genetik karena adanya riwayat keluarga yang pernah menderita kanker.
Kemudian faktor lingkungan seperti paparan polusi dan asap rokok. Serta wanita yang melahirkan banyak anak.
Diakui, kesadaran perempuan untuk memeriksakan diri memang masih rendah. Sehingga dia mengimbau perempuan yang sudah menikah atau wanita usia subur (WUS) pada usia 30-50 tahun segera memanfaatkan layanan IVA dan Sadanis di puskesmas serta fasyankes terdekat.
"Pemeriksaan penting untuk pencegahan sejak dini," tutur Iva. (inu/laz)
Editor : Herpri Kartun