Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kasus Leptospirosis di Jogja 2025 Tembus 18 Orang, 5 Meninggal! Yuk Kenali Fakta dan Mitos Leptospirosis

Bahana. • Selasa, 5 Agustus 2025 | 19:10 WIB

Photo
Photo
RADAR JOGJA - Sejak awal tahun 2025, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat 18 kasus Leptospirosis, 5 diantaranya meninggal.

Kasus-kasus ini menjadi bukti bahwa Leptospirosis masih menjadi ancaman nyata, terutama ketika pemahaman masyarakat tentang penyakit ini masih dipenuhi oleh mitos dan informasi yang keliru.

Inilah mengapa kita perlu mengupas tuntas mitos dan fakta Leptospirosis agar kesadaran dan kewaspadaan bisa tumbuh dari informasi yang benar.

Apa Itu Leptospirosis

Menurut WHO, Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira yang dapat menjangkiti manusia dan hewan.

Bakteri Leptospira ini paling umum memasuki tubuh melalui hidung, mulut, mata, atau melalui abrasi kulit saat orang terpapar air yang terkontaminasi urine dari hewan yang terinfeksi.

Leptospirosis dapat terjadi di seluruh dunia, namun lebih banyak muncul di wilayah-wilayah tropis dan subtropis yang mengalami curah hujan yang tinggi.

Hal ini disebabkan iklim yang panas dan lembab bisa membuat bakteri Leptospira bertahan hidup lebih lama.

Di Indonesia, kasus leptospirosis sering meningkat saat musim hujan, terutama di wilayah yang rawan banjir.

Air banjir yang tercemar urine tikus bisa menjadi media penyebaran bakteri ke manusia, terutama jika terdapat luka terbuka atau kulit yang lecet.

Mitos dan Fakta Leptospirosis

Mitos: Leptospirosis hanya ditularkan tikus.

Faktanya, Leptospirosis juga dapat ditularkan oleh hewan lain seperti anjing, babi, sapi yang terinfeksi oleh bakteri Leptospira ini.

Mitos: Leptospirosis merupakan penyakit yang jarang terjadi.

Faktanya, banyak kasus orang terinfeksi Leptospirosis tidak terdeteksi karena menganggap gejalanya ringan, sehingga penanganannya sering terlambat.

Mitos: Leptospirosis ditularkan hanya melalui genangan air.

Faktanya, Leptospirosis juga dapat menular melalui tanah yang terkontaminasi dengan bakteri Leptospira.

Tikus sering hidup di tanah, gorong-gorong, maupun area lembab lainnya, sehingga meskipun tidak ada genangan air, risiko penularan tetap ada.

Mitos: Leptospirosis tidak berbahaya.
Faktanya, jika sudah terjangkit dan tidak ditangani dengan benar, Leptospirosis dapat menyebabkan komplikasi hingga kematian.

Banyak orang tidak menyadari sudah tertular oleh bakteri ini. Sehingga tidak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Mitos: Leptospirosis hanya mengancam saat banjir.
Faktanya, Leptospirosis memang dapat meningkat saat banjir atau curah hujan tinggi namun, tidak dipungkiri infeksi ini dapat terjadi saat berkebun atau bersentuhan langsung dengan tanah yang terkontaminasi.

Banyaknya mitos yang beredar di masyarakat menunjukkan bahwa edukasi seputar Leptospirosis belum merata.

Sedangkan informasi yang salah atau keliru dapat berdampak besar, mulai dari keterlambatan penanganan, kesalahan penanganan hingga peningkatan angka kematian seperti yang terjadi di Yogyakarta.

Penting bagi masyarakat untuk memahami bagaimana penularannya serta langkah pencegahan yang tepat.

Hal ini bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari seperti menggunakan alas kaki saat hujan, menutup luka ketika beraktivitas, serta menjaga kebersihan lingkungan agar tikus tidak mudah berkembang biak.

Penyebaran informasi yang benar, didukung oleh kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan memahami risiko penularan adalah langkah awal yang dapat menyelamatkan banyak nyawa.

Jangan biarkan mitos dan informasi keliru mengaburkan kewaspadaan kita.

Penulis: Ayu Andayani Saputri

Editor : Bahana.
#leptospirosis di jogja #Kota Jogja