SLEMAN - Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mencatat ada 1.062 kasus tuberkulosis (TBC) yang terjadi hingga semester satu 2025. Terdiri dari TBC sensitif obat sejumlah 1.051 dan resistan obat 11.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Khamidah Yuliati mengaku terus menggiatkan inovasi Sleman Sigap Kendali dan Atasi Tuberkulosis (Sikat TB).
Mulai dari skrining aktif melalui kegiatan jemput bola di komunitas, memanfaatkan kader untuk pelaporan kasus suspek, hingga pemeriksaan cepat terhadap semua suspek.
"Seluruh puskesmas di Kabupaten Sleman dapat melayani pemeriksaan dan pengobatan TBC secara gratis," tegasnya, Kamis (24/7).
Ada beberapa wilayah dengan penyebaran tertinggi. Mulai dari Kapanewon Depok, Kapanewon Gamping, dan Kapanewon Mlati. "Penyebabnya adalah bakteri mycobacterium tuberculosis yang ditularkan melalui udara," katanya.
Hal tersebut bisa terjadi saat penderita TBC batuk, bersin, atau berbicara. Bakteri tersebut utamanya menyerang paru-paru. Namun, bisa juga ke organ lain. Yuli menyoroti adanya berbagai faktor risiko. Termasuk lingkungan.
Mulai dari kepadatan hunian tinggi, ventilasi buruk, dan paparan lama dalam ruangan tertutup. Faktor risiko lain adalah imunitas tubuh rendah, seperti pengidap HIV/AIDS, diabetes mellitus, hingga penyakit kronis. "Usia lanjut atau anak-anak rentan karena imunitas lemah," tambahnya.
Untuk itu pihaknya Meski demikian, dia menyebut memang masih ada beragam kendala penanganan. Utamanya terduga TBC enggan melakukan pemeriksaan maupun pasien yang tidak rutin melakukan pengobatan. (del/pra)
Editor : Heru Pratomo