Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Puluhan Catin di Kota Jogja Alami Kekurangan Nutrisi,  Gaya Hidup Makanan Cepat Saji Berisiko Sebabkan Stunting

Iwan Nurwanto • Senin, 14 Juli 2025 | 06:45 WIB
Bagi calon - calon pengantin, saat ini akan diterapkan bimbingan perkawinan
Bagi calon - calon pengantin, saat ini akan diterapkan bimbingan perkawinan

JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja mencatat puluhan calon pengantin (catin) di Kota Jogja mengalami kekurangan nutrisi. Yakni termasuk dalam kategori kekurangan energi kronis (KEK) serta sebagian juga menderita anemia atau kekurangan darah.

Kepala Dinkes Kota Jogja Emma Rahmi Aryani mengatakan, hingga tanggal 7 Juli 2025 lalu pihaknya mencatat ada 545 catin. Dari jumlah tersebut 13 di antaranya masuk KEK, kemudian delapan menderita anemia, dan ada lima yang menderita KEK plus anemia. Sementara 518 catin masuk kategori sehat.

Emma menyebut, sebanyak 26 catin yang menderita KEK, amenia maupun keduanya cukup menjadi perhatian. Sebab berpotensi melahirkan bayi dalam kondisi stunting. Sehingga upaya pendampingan pun dilakukan.

“Catin beresiko kami lakukan intervensi dengan PMT (Pemberian Makan Tambahan) dan atau tablet tambah darah selama tiga bulan, lalu dipantau setiap bulannya,” ujar Emma saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Minggu (13/7).

Masih adanya catin beresiko, kata dia, kemungkinan disebabkan karena gaya hidup remaja saat ini. Misalnya mulai banyak remaja putri yang mengesampingkan asupan nutrisi dan ketat dalam mengatur konsumsi makanannya karena ingin terlihat kurus.

Namun juga ada penyebab lain, seperti banyak remaja putri yang hanya mengkonsumsi makanan-makanan cepat saji. Kemudian juga kurangnya kegiatan fisik seperti berolahraga.

“Pola makan yang tidak seimbang dan gaya hidup saat usia remaja bisa menjadi penyebab KEK dan anemia,” jelas Emma.

Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyampaikan, prevalensi stunting pada 2024 berada pada angka 14,8 persen. Prevalensi itu mengalami penurunan sebesar dua persen dibandingkan tahun sebelumnya yang 16,8 persen.

Hasto menegaskan, pendampingan terhadap catin dan calon ibu hamil menjadi unsur penting karena merupakan langkah awal pencegahan stunting. Namun di samping itu, program yang menyasar ibu hamil dan bayi dibawah dua tahun (badutal) juga tetap harus berjalan.

“Upaya pencegahan dilakukan dengan deteksi dini dan pendampingan bagi kelompok sasaran melalui Tim Pendamping Keluarga di tiap kelurahan,” katanya.

Editor : Heru Pratomo
#dinkes #hasto wardoyo #calon pengantin #Catin #Stunting #makanan cepat saji #remaja putri #Kekurangan Energi Kronis (KEK)