Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kota Jogja Darurat Penyakit Leptospirosis, Menyebar Hampir ke Seluruh Kemantren

Zakki Mubarok • Jumat, 11 Juli 2025 | 03:45 WIB
BERIKAN PEMAHAMAN: Lana Unwanah (kiri) dan Sri Panggarti memaparkan perihal penyebaran penyakit leptospirosis di Balai Kota Jogja, kemarin (10/7).
BERIKAN PEMAHAMAN: Lana Unwanah (kiri) dan Sri Panggarti memaparkan perihal penyebaran penyakit leptospirosis di Balai Kota Jogja, kemarin (10/7).

JOGJA - Penularan penyakit leptospirosis di Kota Jogja kian mengkhawatirkan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja menyebut jumlah penderita penyakit zoonosis itu pada semester pertama tahun ini naik dua kali lipat dibanding sepanjang 2024.

”Ada 19 kasus pada semester pertama. Sementara sepanjang 2024 ada sepuluh kasus,” sebut Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit, Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Dinkes Kota Jogja Lana Unwanah di Balai Kota Jogja, kemarin (10/7).

Dari 19 kasus, Lana mengungkapkan, enam di antaranya meninggal dunia. Kondisi ini berbanding jauh dengan 2024. Pasien leptospirosis yang meninggal dunia pada tahun lalu dua orang.

Dari catatan dinkes, enam pasien yang meninggal dunia dari lima kemantren. Yakni, Wirobrajan, Gedongtengen, Pakualaman, dan Jetis masing-masing satu pasien. Lalu, Kemantren Ngampilan dua pasien.

Terkait pasien yang meninggal dunia, Lana mengungkapkan, akibat terlambat melakukan pemeriksaan di fasilitas layanan kesehatan. Sebab, rerata kasus yang ditangani petugas kesehatan sudah dalam tingkat keparahan tinggi.

Karena itu, Lana meminta warga memahami gejala penyakit yang disebabkan bakteri leptospira itu. Biasanya, gejala leptospirosis diawali dengan demam, nyeri kepala, dan nyeri otot di daerah betis dan paha. Lalu, mata kuning atau memerah hingga diare.

”Saat awal terinfeksi gejalanya seperti virus biasa, sehingga, masyarakat atau pasien sering terlambat mengakses layanan kesehatan,” ujarnya.

Lana berpendapat memahami gejala lepstospirosis sangat penting. Sebab, bakteri leptospira menyerang organ ginjal jika tidak segera tertangani.

Di sisi lain, sebaran 19 kasus leptospirosis pada 2025 menyebar hampir ke seluruh kemantren.

”Hanya tiga kemantren yang masih bebas leptospirosis. Yakni, Kraton, Gondomanan, dan Danurejan,” bebernya.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu menambahkan, mayoritas kasus leptospirosis ditemukan di permukiman yang memiliki sampah terbuka. Maksudnya, sampah yang dibiarkan berserakan di sekitar tempat tinggal.

”Kemudian, kondisi rumah yang banyak tumpukan barang bekas dan rumah yang memiliki sumur tanpa penutup,” paparnya.

Penyakit ini, kata Endang, juga cukup rawan menyerang warga yang melakukan kegiatan tertentu tanpa alat pelindung diri. Misalnya penggerobak sampah.

Kepala Bidang Perikanan dan Kehewanan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Jogja Sri Panggarti berharap masyarakat meningkatkan kebersihan hewan peliharaan. Sebab, leptospirosis merupakan jenis penyakit yang dapat menular antarhewan.

Disinggung tentang upaya penanggulangan perkembangan biakan tikus di Kota Jogja, Panggarti mengaku masih menggodoknya. Sebab, tindakan gropyok tikus hanya bisa diterapkan pada lahan pertanian.

”Untuk pemukiman mungkin bisa dilakukan dengan pemasangan perangkat, racun, atau lem,” katanya. (inu/zam) 

 

Editor : Herpri Kartun
#penyakit leptospirosis #Dinkes Kota Jogja #leptospirosis