KULON PROGO – Tiga puluh persen remaja puteri mengalami anemia atau kekurangan darah. Hal itu berdasarkan krining penyakit prioritas pada remaja yang dilakukan Dinas Kesehatan Kulon Progo.
Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo Sri Budi Utami menyampaikan, data tersebut merupakan hasil skrining yang dilakukan 12 puskesmas. "Skrining penyakit tidak menular, ditemukan anemia di kalangan remaja, yang biasanya menyerang lansia," ucap Budi, Selasa (24/6).
Anemia di kalangan remaja dapat terjadi akibat pola makanan yang tak sesuai. Kebanyakan remaja putri tak memikirkan makanan gizi berimbang, dan memilih makanan yang sedang tren di kalangan muda.
Sekaligus, makanan instan juga banyak dikonsumsi mengakibatkan kekurangan hemoglobin (HB) terjadi.
Walaupun, dari ribuan remaja putri tak ditemukan anemia taraf berat dengan kadar HB kurang dari enam, pihaknya tetap mewaspadai hal itu. Lantaran, anemia cukup mengganggu jika dibiarkan terus menerus. Dari segi pelajar, anemia berpotensi menurunkan konsentrasi. "Biasanya pucat, jadi pelajar putri tidak biaa konsentrasi," ungkapnya.
Selain penurunan prestasi siswa, anemia yang dibiarkan terus menerus dapat berdampak cukup banyak.
Remaja putri yang telah dewasa dan tetap menderita anemia bisa berpotensi melahirkan bayi stunting. Lantaran, anemia dapat menghambat pertumbuhan janin.
Pihaknya akan segera berkordinasi dengan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kulon Progo untuk bekerjasama mengatasi kasus itu. Dinkes sesegera mungkin akan mendistribusikan tablet penambah darah ke sekolah-sekolah."Nanti bisa diminum seminggu sekali di setiap sekolah-sekolah," ungkapnya. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo