BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul memastikan bahwa penyakit Tuberkulosis (TBC) bukanlah penyakit yang mengerikan.
Masyarakat diminta tidak khawatir jika terdiagnosis TBC, karena penyakit ini bisa disembuhkan dengan pengobatan yang rutin dan teratur.
Dinkes Bantul juga terus berupaya menemukan kasus-kasus TBC sesuai dengan target estimasi yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.
Pada tahun 2025, ditargetkan terdapat sekitar 2.100 temuan kasus. Namun, hingga Mei 2025, baru ditemukan 327 kasus.
“Targetnya bukan berapa banyak kasusnya, tapi berapa yang berhasil kita temukan,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantul, Vera Fenanose, saat ditemui di kantornya, Senin (2/6).
Ia menjelaskan, semakin banyak kasus yang berhasil ditemukan justru menandakan keberhasilan upaya skrining dan penanggulangan.
“Kalau ditemukan banyak bukan berarti kasusnya meningkat, tapi karena kita berhasil menjaring lebih banyak penderita untuk diobati,” jelasnya.
Data menunjukkan bahwa jumlah temuan kasus TBC di Bantul selama tiga tahun terakhir mengalami fluktuasi.
Pada tahun 2022 tercatat 1.820 kasus, kemudian menurun tipis menjadi 1.818 kasus pada 2023, dan kembali menurun pada 2024 menjadi 1.552 kasus.
Sementara itu, hingga Mei 2025, jumlah kasus yang berhasil terdeteksi sebanyak 327 kasus.
Dari jumlah tersebut, 25 persen adalah anak-anak usia 0 sampai 14 tahun, 53 persen usia produktif 15 sampai 59 tahun, dan 21 persen merupakan lansia usia 60 tahun ke atas.
Temuan terbanyak berasal dari wilayah Banguntapan, Sewon, dan Kasihan.
“Skrining aktif terus kami lakukan. Fokusnya bukan pengobatan saja, tapi pencegahan dan promosi kesehatan,” ujarnya.
Dinas Kesehatan melakukan skrining massal melalui berbagai program, seperti layanan di Puskesmas, posyandu, hingga pondok pesantren.
Pemeriksaan dilakukan terhadap individu yang memiliki gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, atau memiliki riwayat kontak dengan penderita TBC.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak memberi stigma negatif terhadap penderita TBC, karena penyakit ini dapat disembuhkan.
“Kalau sudah diobati rutin selama enam bulan, biasanya hasilnya negatif dan tidak menularkan lagi,” tegas Vera.
Selain pengobatan, Dinkes juga menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, seperti memakai masker, menjaga etika batuk, serta tidak menghentikan pengobatan sebelum tuntas.
“Yang penting jangan takut. TBC bukan penyakit yang mematikan, tapi harus segera diobati,” pungkasnya. (cr2)
Editor : Bahana.