Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Peneliti UGM dr Antonia Morita Iswari Saktiawati Kembangkan AI untuk Skrining TBC, Pakai CAD Baca Hasil X-Ray

Fahmi Fahriza • Sabtu, 19 April 2025 | 04:45 WIB

 

SOSIALISASI: Dinas Kesehatan DIJ Menggelar Sosialisasi Dukungan Umpan Balik Pasien TBC di Kantor Dinas Kesehatan DIJ, Rabu (27/9).Winda Atika Ira P / Radar Jogja
SOSIALISASI: Dinas Kesehatan DIJ Menggelar Sosialisasi Dukungan Umpan Balik Pasien TBC di Kantor Dinas Kesehatan DIJ, Rabu (27/9).Winda Atika Ira P / Radar Jogja

JOGJA - Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan di Indonesia, dengan kematian yang diperkirakan mencapai 125 ribu pada 2024.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sendiri mendukung berbagai penelitian berkaitan dengan pengentasan masalah TBC, salah satunya yang diinisiasi oleh peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM).

Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM yang membidangi departemen ilmu penyakit dalam dr Antonia Morita Iswari Saktiawati menyampaikan, pihaknya telah mengembangkan perangkat lunak computer aided detection (CAD) berbasis teknologi artificial intelligent (AI).  WHO sendiri telah menyarankan penggunaan CAD untuk bisa membantu membaca hasil X-ray.

"Terutama untuk pasien di wilayah terpencil atau di fasilitas kesehatan yang tidak ada dokternya," jelas dr Morita yang juga menjabat Principal Investigator Project KONEKSI X-ray AI TB, Jumat (18/4).

Ia menerangkan, project ini bertujuan mengembangkan CAD berbasis AI untuk skrining TBC di daerah terpencil yang juga ramah gender dan inklusif bagi penyandang disabilitas.

Pihak lain yang terlibat adalah University of Melbourne, Monash University Indonesia, UNS, Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA) dan Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua (YPKMP).

Disebutnya, project ini merupakan 1 dari 18 project yang didanai oleh program KONEKSI, sebuah program yang diinisiasi oleh Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia "Sudah ada empat negara yang sejauh ini mengembangkan CAD, yaitu Belanda, India, Korea Selatan, dan Jepang," paparnya.

Sementara Indonesia, sebagai negara dengan beban kasus TBC tertinggi ke-2 di dunia, belum mempunyai CAD. Project ini diharapkan berkontribusi dalam penanggulangan TBC dan mewujudkan Indonesia  mempunyai CAD sendiri.

Sebetulnya, CAD berbasis AI juga bukan tanpa kelemahan, karena ada biasnya. "Ini terjadi kalau data-data yang dikembangkan tidak berasal dari populasi yang akan menggunakannya," papar dr  Morita.

Ia menekankan CAD yang akan dihasilkan oleh project ini diharapkan lebih cocok diaplikasikan untuk masyarakat Indonesia, karena dikembangkan menggunakan data-data dari Indonesia.

Penuturan lain datang dari Ketua Tim Kerja Tuberkulosis Kemenkes dr Tiffany Tiara Pakasi. Diakuinya, perangkat lunak ini dikembangkan untuk dapat digunakan dalam program pengendalian dan penanggulangan TBC.  "Ini adalah inovasi yang ditunggu-tunggu," serunya dalam pertemuan secara daring dengan pihak UGM.

Dosen FK-KMK UGM dr Antonia Morita Iswari Saktiawati
Dosen FK-KMK UGM dr Antonia Morita Iswari Saktiawati
 

Pada pertemuan itu, dr Tiara menekankan pentingnya penemuan kasus TBC, yang pada tahun 2024 diestimasikan sebanyak 1.092.000 kasus. Namun dari jumlah itu, belum ditemukan seluruh kasusnya secara spesifik.

"Penemuan kasus TBC secara aktif (active case finding/ACF) merupakan salah satu strategi yang telah dilakukan dalam rangka akselerasi eliminasi TBC," ulasnya.

Dengan teknologi AI dari pihak UGM itu, diharapkan dapat digunakan dalam ACF karena hasilnya lebih cepat dan konsisten. Selain itu, lanjut dr Tiara, teknologi AI cocok untuk program skrining massal dengan biaya yang efektif.

Lebih lanjut dr Tiara menyampaikan, sebetulnya payung hukum strategi pengendalian TBC sudah sangat kuat, yaitu Peraturan Presiden (PP) No. 67 Tahun 2021 tentang penanggulangan TBC.

"Salah satu strategi yang dimuat dalam PP itu adalah pemanfaatan hasil riset dan teknologi untuk skrining, diagnosis dan tata laksana TBC," tandasnya. (iza/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Universitas Gadjah Mada (UGM) #masalah #kematian #tuberkulosis (TBC) #skrining tbc #peneliti #Kementerian Kesehatan #kemenkes #CAD #Permasalahan #Kesehatan #pengentasan #ai #x-ray #computer aided detection #penelitian #artificial intelligent #tbc #kasus #dr Antonia Morita Iswari Saktiawati #Indonesia