RADARJOGJA — Penyakit antraks kembali menjadi sorotan publik setelah beberapa kasus mencuat di berbagai wilayah dunia, termasuk laporan terbaru dari Zambia pada 2023 dan Texas, Amerika Serikat, awal 2024.
Namun, publik Tanah Air tak bisa menutup mata, sebab Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sendiri dilanda kasus serupa yang menimbulkan kekhawatiran luas masyarakat.
Menurut Dinas Kesehatan DIY, antraks atau anthrax adalah penyakit infeksi bakteri Bacillus anthracis yang menyerang hewan ternak seperti sapi, kambing, dan domba, serta dapat menular ke manusia.
Gejala pada hewan sangat khas, yakni; kematian mendadak, demam tinggi, darah hitam pekat keluar dari lubang tubuh, serta perilaku tak biasa seperti membenturkan kepala atau kejang.
Dampak pada manusia paling umum terjadi melalui tiga jalur: kontak kulit langsung, inhalasi spora bakteri, dan konsumsi daging terinfeksi yang tidak dimasak sempurna.
Yang terakhir ini sangat berbahaya, karena bisa menyebabkan antraks gastrointestinal, jenis antraks yang menyerang sistem pencernaan.
Gejalanya meliputi demam, mual hebat, muntah darah, diare berdarah, dan peradangan usus akut.
Jika tidak diobati segera dengan antibiotik, tingkat kematian bisa mencapai 25 hingga 75 persen, menurut data WHO dan Alodokter.
Warga DIY tentu masih ingat insiden yang viral tahun lalu.
Pada Februari-Maret tahun ini, kejadian serupa kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, ditandai dengan laporan kematian mendadak 20 ekor sapi di Kalurahan Bohol, Kapanewon Rongkop, dan Kalurahan Tileng, Kapanewon Girisubo.
Hasil investigasi yang dirilis oleh Dinas Kesehatan DIY saat itu mengonfirmasi adanya kontaminasi Bacillus anthracis dari sisa bangkai hewan yang dipotong tanpa izin resmi.
Meski tak semua warga mengalami gejala parah, kasus ini memicu pemeriksaan menyeluruh di beberapa wilayah peternakan.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Wibawanti Wulandari menanggapi kasus tersebut dengan melakukan vaksinasi di wilayah zona merah dan kuning juga antibiotik di daerah yang terdampak.
“Edukasi juga kami gencarkan kepada para peternak”, ujarnya.
Kasus di Yogyakarta bukan hanya alarm lokal, tapi refleksi dari tantangan global dalam menghadapi penyakit zoonosis seperti antraks.
Konsumsi daging sembarangan, terutama dari sumber tak terpercaya, adalah pintu masuk bagi risiko penyakit berbahaya ini.
Masyarakat diharapkan lebih bijak dalam memilih bahan pangan dan memahami pentingnya sanitasi serta pengawasan peternakan.
Kasus antraks bukan sekadar masalah peternakan, tapi juga ancaman serius terhadap kesehatan publik yang tak boleh dianggap remeh. (Affan Yunas Hakim)
Editor : Meitika Candra Lantiva