Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kasus DBD Meningkat, Dinkes Kota Jogja Akan Hidupkan Lagi Satu Rumah Satu Jumantik

Iwan Nurwanto • Kamis, 6 Maret 2025 | 12:50 WIB
Kasus demam berdarah dengue (DBD) dalam beberapa waktu terakhir mengalami peningkatan di berbagai daerah, termasuk di DIY.
Kasus demam berdarah dengue (DBD) dalam beberapa waktu terakhir mengalami peningkatan di berbagai daerah, termasuk di DIY.

 

JOGJA - Di Kota Jogja, dinkes setempat mencatat ada puluhan kasus DBD hingga Februari ini. Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi  Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan, pada tahun 2025 ini pihaknya mencatat ada 92 kasus DBD. Jumlah itu terbagi pada Januari sebanyak 49 kasus dan Februari 43 kasus.

 

Dari data Dinkes Kota Jogja, kasus DBD banyak ditemukan pada wilayah padat penduduk. Misalnya ada sembilan kasus yang ditemukan di Kemantren Tegalrejo, kemudian di Gedongkiwo ditemukan delapan kasus, lalu di Wirobrajan sebanyak enam kasus. Sementara untuk kemantren rerata nol sampai lima kasus. “Untuk kasus meninggal dunia alhamdulilah masih nihil,” ujar Endang.

 Baca Juga: Mengenal Bima Sepiawa, Belajar Lima Tahun di Bali Kini Jadi Satu-satunya Perajin Papan Surfing di DIY

Meski belum ada kasus meninggal dunia, Endang tetap meminta agar masyarakat mewaspadai penyebaran DBD. Sebab berdasarkan pengalaman tahun lalu kasus DBD meningkat signifikan. Adapun selama 2024 kasus DBD tercatat mencapai 283 kasus. Jumlah itu naik hampir empat kali lipat dibanding 2023 yang hanya tercatat 86 kasus DBD.

 

Menurut Endang, upaya PSN dapat dilakukan masyarakat untuk mencegah naiknya kasus DBD. Yakni melalui program menguras, menutup, dan mengubur tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk atau 3M.

 

Selain itu, perlu juga menggunakan obat nyamuk dan memasang kelambu saat tidur untuk mencegah gigitan nyamuk aedes aegypti penyebab DBD. Lebih lanjut, menurutnya peran aktif masyarakat juga cukup penting menekan angka penyebaran DBD.

“Salah satunya melalui gerakan satu rumah satu jumantik yang dihidupkan kembali di kampung dan perkantoran,” terang Endang.

 

Dia pun berpesan, agar masyarakat juga lebih waspada terhadap gejala penyakit DBD. Terlebih ketika ada anak atau anggota keluarga mengalami gejala seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, mual, atau muncul bintik-bintik merah pada kulit.

 

Endang menegaskan, penanganan dini terhadap penderita bisa menyelamatkan dari kesakitan yang lebih parah atau kompilasi. Jika mengalami gejala DBD lebih baik langsung dibawa ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit agar segera mendapatkan perawatan. “Kami mengimbau kepada orang tua harus lebih waspada di hari ke-4-5, ketika ada anak atau keluarga mengalami panas  tinggi,” pesannya.

Baca Juga: Penyerapan Pupuk Subsidi Belum Maksimal, DP3 Sebut Ada Mekanisme Alokasi Ulang 

Sebelumnya, Lurah Gunungketur Pakualaman Sunarni mengaku, sudah menggalakkan program PSN  di rumah-rumah warga. Kegiatan tersebut menyasar tempat penampungan air di rumah warga yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

 

Sunarni mengimbau agar masyarakat agar turut aktif memantau jentik nyamuk di lingkungannya. Keterlibatan aktif masyarakat menurutnya sangat penting. Sebab pencegahan DBD bukan hanya tanggung jawab pemerintah namun juga memerlukan partisipasi dari masyarakat.  "Harapannya dengan kolaborasi ini dapat menekan angka kasus DBD di Kelurahan Gunungketur," katanya

Editor : Heru Pratomo
#Kota Jogja #jumantik #DBD