JOGJA – Puasa memang baik untuk kesehatan. Tapi berbuka dengan mengonsumsi berbagai makanan secara bebas, justru bisa menjadi bumerang. Berbuka juga perlu dilakukan secara bijak, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Ketua program studi Gizi Universitas Aisyiyah (Unisa) Jogjakarta Agung Nugroho mengungkapkan, pemilihan menu berbuka jadi salah satu hal yang penting untuk dilakukan. "Harus memikirkan aspek higienitas, hingga kandungan gizi dari apa yang dimakan," katanya, Senin (3/3).
Ia mengungkapkan, masyarakat perlu waspada dan memilah takjil atau menu-menu berbuka puasa yang banyak dijual di pinggir jalan. Selain aspek kebersihan, bahan baku hingga bahan pengolahan juga jadi hal yang harus dikritisi.
Agung mengamati, saat ini marak sekali makanan berpemanis buatan yang dijual secara bebas. Jika dikonsumsi dalam jumlah banyak dan berlebihan, hal tersebut juga bisa berdampak buruk bagi tubuh. Selain makanan berpemanis, hal yang juga perlu menjadi perhatian adalah makanan yang terlalu banyak mengandung lemak, minyak, dan santan.
"Sekarang banyak anak muda mengidap penyakit tidak menular, salah satunya karena kebiasaan makan yang buruk," pesannya.
Adapun, beberapa contoh penyakit yang berpotensi menyerang meliputi, diabetes mellitus, obesitas, penyakit jantung, kanker, hingga gagal ginjal. Diakuinya ragam penyakit tersebut bisa muncul apabila seseorang mengonsumsi makanan manis yang berlebihan, atau makanan yang terlalu banyak mengandung lemak dan santan.
"Bahaya lain yang lebih instan itu gangguan pencernaan, diare, bahkan keracunan. Kalau makanannya tidak bersih," ulasnya.
Secara teori, Agung menuturkan saat berpuasa, kinerja lambung juga akan mengalami penurunan, atau kinerjanya cenderung lebih diistirahatkan oleh tubuh. Sehingga, ketika waktu berbuka puasa tiba, Agung sendiri tidak menyarankan untuk langsung mengonsumsi makanan dalam jumlah yang banyak, karena lambung dan tubuh akan juga mengalami lonjakan.
"Kalau langsung makan banyak, lambung dan metabolisme tubuh juga tidak siap dengan perubahan konsumsi yang terjadi," terangnya.
Hal tersebut, jika dilakukan secara berulang maka dikhawatirkan akan menyebabkan berbagai risiko pada kesehatan tubuh. "Risiko seperti gangguan pencernaan, lonjakan gula darah, dan kenaikan berat badan," tandasnya. (iza/pra)
Editor : Heru Pratomo