Dengan status sebagai peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dia tidak perlu khawatir tentang biaya perawatan yang harus dijalaninya untuk kesembuhannya.
Suryanto pertama kali merasakan gejala yang mengarah pada penyakit ginjal pada Agustus 2024. Pada awalnya, dia merasa ada pembengkakan pada kakinya yang semakin parah. Diikuti dengan pembengkakan pada bagian perut dan bawah mata.
Tak hanya itu, dia juga merasa napasnya semakin sesak dan terasa pendek. Selain itu, tubuhnya mudah sekali lemas dan merasa sangat lelah. Bahkan ketika hanya berjalan sebentar atau menggunakan motor, Suryanto terpaksa harus berhenti sejenak untuk sekadar mengambil napas.
“Cepat lemas juga, jadi kalau jalan sebentar pakai motor sudah nggak kuat, harus berhenti ambil napas dulu,” ujarnya, Selasa (25/2).
Sebagai seorang kernet truk, Suryanto sehari-hari menghabiskan waktu dengan mobilitas tinggi menggunakan kendaraan besar. Gejala yang dia rasakan mulai mengganggu pekerjaannya. Membuatnya semakin sulit untuk melakukan aktivitas seperti biasa.
Belum sempat memeriksakan diri ke klinik, pada suatu sore setelah pulang kerja, kondisi Suryanto semakin memburuk. Anak dan istrinya melihat Suryanto yang pulang ke rumah tampak pucat dan kesulitan bernapas.
Bahkan saat berada di kamar mandi, dia sempat jatuh ke lantai karena kondisi tubuhnya yang lemas. Dengan kondisi yang semakin kritis itu, anaknya langsung membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Setelah diperiksa oleh dokter, hasilnya menunjukkan bahwa kreatinin Suryanto cukup tinggi.
Sehingga dokter menyarankan Suryanto untuk segera menjalani cuci darah.
“Dokter menyarankan sudah harus cuci darah karena kreatinin saya tinggi, terus akhirnya dirujuk untuk perawatan HD di Klinik Hemodialisis PMI DIY,” kata Suryanto.
Warga Kalurahan Sumberarum, Moyudan, Sleman ini menjalani proses cuci darah sebanyak dua kali dalam seminggu.
Selama menjalani perawatan di klinik ini, Suryanto merasa sangat terbantu dengan adanya fasilitas BPJS Kesehatan yang menanggung seluruh biaya perawatan hemodialisisnya.
Dia mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada pemerintah atas hadirnya Program JKN, yang menurutnya sangat membantu bagi dirinya dan keluarga.
“Tanpa Program JKN, saya tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi saya sekarang. Program JKN sudah sangat membantu, dan saya sangat berterima kasih kepada pemerintah yang menyediakan program ini,” ucap Suryanto.
Suryanto juga mengungkapkan, dirinya sudah terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan sejak lama.
Bahkan sejak masih bernama PT. Askes (Persero), sudah di daftarkan pemerintah dengan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Memastikan terdaftar sebagai kepesertaan yang aktif, dia merasa nyaman dan tidak khawatir lagi tentang biaya pengobatannya.
“Terus terang nggak bisa dibayangkan kalau nggak tercover BPJS Kesehatan dan harus hemodialisis seminggu dua kali, mau jadi apa kita semua ini,” katanya.
Selain itu, Suryanto juga memuji pelayanan di Klinik Hemodialisis PMI DIY.
Menurutnya, pelayanan yang diberikan sangat baik. Semua perawat di klinik ini ramah dan cepat tanggap, membuatnya merasa seperti di rumah sendiri.
“Pelayanannya sangat baik, semuanya ramah, suka bercanda, dan sudah seperti keluarga. Membuat saya nyaman saat menjalani perawatan di sini. Tidak ada tambahan iuran biaya sama sekali,” tambahnya.
Dengan adanya dukungan dari BPJS Kesehatan, Suryanto merasa terbantu dalam menjalani proses perawatan jangka panjang.
Dia berharap dapat terus mendapatkan perawatan yang optimal hingga kondisinya membaik dan bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala.
Editor : Bahana.