Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bunuh Diri Dapat Dicegah, Ini Tanda-tanda Orang Berniat Akhiri Hidup Menurut Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa

Jihan Aron Vahera • Jumat, 31 Januari 2025 | 03:55 WIB
Ilustrasi bunuh diri
Ilustrasi bunuh diri

 

PURWOREJO - Pada Januari 2025 ini di wilayah Kabupaten Purworejo sempat dihebohkan peristiwa bunuh diri. Bahkan, peristiwa itu terjadi hampir berdekatan. Peristiwa pertama terjadi di sebuah rumah di Desa Dadirejo, Kecamatan Bagelen, Purworejo pada Kamis (16/1) sekitar pukul 20.00 yang dilakukan oleh seorang gadis 17 tahun asal Kulon Progo, DIJ. Lalu, pada Jumat (17/1) peristiwa serupa terjadi di Desa Semono, Bagelen, Purworejo pada pukul 11.30 yang menimpa seorang pria ODGJ berusia 40 tahun.

Selanjutnya, Rabu (22/1) terjadi dua peristiwa yaitu di Kecamatan Gebang dan Purworejo. Pada Rabu (22/1) kurang lebih pukul 18.30 terjadi peristiwa gantung diri di Desa Seren, Gebang, Purworejo yang dilakukan oleh seorang laki-laki.

Tak berselang lama pada pukul 22.00 terdapat kabar kembali ada peristiwa yang dilakukan oleh laki-laki berusia 55 tahun di Kelurahan Kedungsari, Kecamatan/Kabupaten Purworejo. "Peristiwa itu bisa saja terjadi karena meniru atau menginspirasi," kata Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa, RSUD dr. Tjitrowardojo dr.Ika Endah Lestariningsih, Sp.KJ.,M.Kes, Kamis (30/1).

Disampaikan, pelaku bunuh diri pada hakikatnya memiliki penderitaan yang berat dalam hidupnya. Mereka mengira mengakhiri hidup sama dengan mengakhiri penderitaan. "Dalam pikirannya tidak ada yang dapat menghilangkan penderitaannya kecuali menghilangkan nyawanya," sebut dia.

Menurut dr. Ika, sebenarnya bunuh diri dapat dicegah dan dideteksi oleh orang sekitarnya. Karena, biasanya ada tanda-tanda sebelum ancaman bunuh diri terjadi. "Jika ada pesan via lisan atau tertulis yang sudah diungkapkan maka saat itulah sistem kewaspadaan dini pencegahan bunuh diri oleh lingkungan sekitar," sambungnya.

Pemicu terjadinya bunuh diri adalah masalah psiko bio sosio spiritual dan cultural. Di Indonesia bunuh diri biasanya pemicunya adalah masalah ekonomi, masalah sehari-hari dalam keluarga, masalah suami istri, masalah penyakit kronis, masalah hutang, piutang. "Frustasi karena sebab apapun, dan sebagainya," imbuh dia.

Bunuh diri, kata dr. Ika, sangat bermakna dan relevan dengan mental illness atau gangguan mental. Artinya, saat ada ide untuk bunuh diri seseorang mengalami kondisi di otaknya berupa gangguan awareness, gangguan daya pertimbangan atau adjustment, bahkan gangguan tilikan diri (insight). "Bahkan, saat ada preference percobaan dapat juga karena seseorang sedang mengalami halusinasi yang menyuruh mengakhiri hidup," terangnya.

Orang yang berisiko bunuh diri biasanya akan memberikan tanda-tanda kepada sekitarnya. Misalnya, pesan untuk menitipkan barang atau keluarga seperti anak, suami, atau ada hewan peliharaan yang dicintai. Untuk itu, dia menekankan bunuh diri dapat dicegah. Caranya, dengan meningkatkan pendidikan dan edukasi di semua tingkat masyarakat. "Termasuk, pelajar, ibu rumah tangga, pegawai, pejabat, dan sebagainya," pesan dia. (han/pra)

 
Editor : Heru Pratomo
#gangguan mental #bunuh diri #dokter spesialis #kesehatan jiwa #Purworejo