JOGJA - Psikolog Faza Maulida mengatakan, ada berbagai faktor yang menyebabkan manusia atau masyarakat menderita gangguan jiwa. Namun dari segi ilmu psikologi, secara umum ada empat penyebab yakni faktor psikis, biologis, sosial, dan spiritualitas.
Dijelaskan Faza, untuk gangguan jiwa yang disebabkan faktor psikis biasanya karena kurangnya kemampuan untuk mengelola emosinya. Sehingga mudah terserang stres dan berlanjut ke tahap yang lebih parah yakni gangguan jiwa.
Faktor spiritualitas dapat disebabkan kepercayaan yang berlebihan seseorang kepada sesuatu. Sehingga dapat berlanjut kepada gangguan mental. Lalu untuk faktor biologis, biasanya karena memang ada genetik gangguan jiwa yang diturunkan dari keluarganya.
Sementara faktor sosial, biasanya dipengaruhi lingkungan sosial dengan memberi tekanan kepada seseorang. Misal karena justifikasi masyarakat kepada seseorang statusnya sebagai pengangguran karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan.
"Tekanan kerja juga masuk kategori sosial. Mungkin karena banyak tuntutan dari pekerjaannya atau tekanan dari senior sehingga menderita gangguan jiwa," ujar Faza Selasa (21/1).
Namun jika melihat kondisi di Kota Jogja, ia menyebut, faktor yang paling mungkin menyebabkan masyarakat menderita gangguan jiwa karena faktor sosial dan ekonomi. Yakni perihal sulitnya mendapatkan pekerjaan dan upah rendah.
Menurut akademisi UAD ini, lapangan kerja yang sangat sedikit tersedia di Jogja bisa berpengaruh terhadap kondisi mental seseorang. Apalagi jika ditambah dengan justifikasi dari masyarakat luas tentang stigma buruk status pengangguran.
Kemudian upah yang rendah, kata Faza, biasanya berpengaruh terhadap kondisi mental karena keadaan ekonomi seseorang. Jadi meskipun seseorang itu bekerja, tetap merasa stres atau mendapat tekanan mental karena tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kalau di Jogja sendiri kemungkinan itu berhubungan dengan lingkungan sosial. Dari sosial merembet ke ekonomi,” terangnya.
Perihal tanda-tanda orang mengalami gangguan jiwa, Faza menerangkan ada dua kategori. Penderita gangguan jiwa berat dan ringan. Untuk gangguan jiwa berat biasanya ditandai halusinasi dan delusi. Seperti mendapatkan bisikan gaib atau ancaman yang sebenarnya tidak ada.
Sementara untuk gejala gangguan jiwa ringan akan ditandai dengan depresi hingga cemas. Bahkan bisa campuran dari dua hal itu. Misalnya perubahan pola makan atau mulai menarik diri dari lingkungan sosial.
"Kalau mulai mengalami tanda-tanda gangguan jiwa, tentu harus sudah membutuhkan bantuan profesional,” tegas Faza.
Terpisah, Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia Jogjakarta Akhmad Akhadi membeberkan, hingga 21 Januari kemarin total ada 1.721 pasien gangguan jiwa yang mendapatkan perawatan di rumah sakitnya. Rinciannya, pasien rawat inap 76 orang dan rawat jalan 1.645 orang.
"Kalau terkait penyebabnya secara detail, tidak dapat kami berikan, karena termasuk informasi yang dikecualikan," terang Akhmad saat dikonfirmasi. (inu/laz)
Editor : Heru Pratomo