JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY mencatat kasus bunuh diri selama empat tahun terakhir paling banyak terjadi di Kabupaten Gunungkidul dan terendah di Kota Jogja.
Kepala Dinkes DIY Pembajun Setyaningastutie mengatakan, mayoritas pelaku bunuh diri disebabkan oleh faktor ekonomi dan sakit menahun yang tak kunjung sembuh. Terutama di Gunungkidul, kebanyakan menimpa orang berusia di atas 50 tahun.
"Tiga penyebab utama bunuh diri karena tuntutan gaya hidup, beban kerja dan kehidupan dan sakit menahun," ujarnya saat dikonfirmasi Minggu (17/11/2024).
Selain itu, beberapa kasus lain karena masalah kesehatan mental dari si pelaku. Banyaknya masalah yang menimpa namun terpendam karena introvert menjadi salah satu penyebabnya.
Tahun 2021-2024 di Gunungkidul tercatat ada 106 kasus bunuh diri. Posisi kedua terbanyak terjadi di Sleman yakni 66 kasus. Lalu Kulon Progo 29 kasus. Kota Jogja sebanyak 7 kasus. "Kemudian Bantul data dari 2022-2024 ada 35 kasus," tuturnya.
Data itu masih bersifat fluktuatif karena akan diperbarui terus. Untuk data terakhir 7 Oktober 2024, Gunungkidul masih terbanyak yakni 16 kasus. Diikuti Kabupaten Bantul 13 kasus, Kabupaten Sleman 10, Kulon Progo 3 dan Kota Jogja 1 kasus. "Data akan diupdate lagi pada akhir tahun (Desember)," jelasnya.
Data dari Dinkes DIY itu belum ditambah dengan beberapa kasus bunuh diri lainnya. Seperti di Kulon Progo, sempat terjadi empat kasus bunuh diri. Tiga kasus terdeteksi di wilayah Kapanewon Pengasih, satu kasus ditemui di Girimulyo. Sehingga total kasus tahun 2024 menjadi delapan kasus.
"Bersama Dinkes Kulon Progo, kami melakukan Penguatan TPKJM (Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat)," bebernya.
Dinkes DIY juga mempunyai kader khusus untuk melakukan pendampingan orang dengan gangguan jiwa setelah pulang dari rumah sakit ataupun camp sosial. Pihaknya juga menekankan kepada masyarakat untuk saling menjaga.
Hal itu dilakukan agar masyarakat bisa menerima dan ikut memberikan dukungan kepada orang dengan gangguan jiwa. "Artinya para tokoh masyarakat, pemuka agama ayo bareng-bareng pelan-pelan menurunkan stigma negatif itu," ujarnya. (oso/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita