GUNUNGKIDUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul melaporkan terjadi lonjakan kasus penyakit gondongan mencapai 1.050 kasus dengan mayoritas penderita masih anak-anak.
Pada Tahun 2023, penderita hanya berjumlah 155 kasus. Penyakit yang disebabkan virus Paramyxovirus rentan tertular kepada siswa-siswa Sekolah Dasar (SD).
Kepala Dinkes Gunungkidul Ismono mengatakan, penularan virus melalui droplet yakni pernapasan maupun kontak langsung dengan penderita. Penularan dapat terjadi saat bersin, batuk ataupun sentuhan tangan yang belum dicuci.
Baca Juga: 178 Peserta Asing Akan Susuri Keindahan Alam DIY melalui Ajang JIHW, Ini Tanggal Pelaksanaannya
"Pada 2024 ini memang terjadi lonjakan mencapai 1.050 kasus, anak-anak yang terkena gondongan diharapkan tidak masuk sekolah selama 10 hari," ujar Ismono kepada awak media, Kamis (14/11).
Gejala gondongan, kata Ismono, yakni flu, batuk dan pembengkakan pada pipi. Rasa nyeri akan muncul ketika anak-anak sedang makan. Terlebih lagi, penyakit gondong hingga saat ini belum memiliki obat.
"Tapi akan sembuh sendiri dengan masa inkubasi 10 sampai 11 hari, penyakit gondong ini tidak memiliki resiko yang tinggi," jelasnya.
Baca Juga: Pemprov DIY Apresiasi Perjuangan Para Atlet PWI DIY, Berhasil Masuk Lima Besar di Porwanas 2024
Ismono juga menerangkan, virus mudah menular kepada anak-anak yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah. Akan tetapi, imunisasi gondong telah ada meskipun belum menjadi program pemerintah.
"Apabila tak kunjung sembuh, orang tua dapat membawa anaknya ke dokter," tuturnya.
Lebih jauh, Ismono menerangkan, penularan virus dapat dicegah dengan cara penderita tidak keluar rumah selama masa inkubasi, makan bergizi dan cukup. Menurutnya, masa pancaroba lebih mudah dalam penularan virus tersebut.
Dinkes Gunungkidul juga rutin melakukan edukasi mengenai pencegahan dan penanganan gondong khususnya pada anak yang rentan terpapar. (ndi)
Editor : Heru Pratomo