GUNUNGKIDUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul mencatat, peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Demam Sindrom Syok (DSS) yang signifikan.
Berdasarkan data sementara, tercatat 1.584 kasus yang tersebar di 31 puskesmas di seluruh wilayah. Kasus tertinggi tercatat di Puskesmas Wonosari II dengan total 336 kasus.
Peningkatan kasus juga bervariasi setiap bulannya. Pada Maret, puncak kasus tertinggi terjadi dengan 361 kasus. Data bulan lainnya menunjukkan angka yang fluktuatif, dengan rincian Januari 75 kasus, Februari 207 kasus, April 246 kasus, Mei 241 kasus, Juni 191 kasus, Juli 121 kasus, Agustus 77 kasus, dan September 65 kasus.
Beberapa puskesmas lain yang memiliki jumlah kasus cukup tinggi antara lain Puskesmas Semin II sebanyak 158 kasus, Paliyan 147 kasus, dan Playen I 119 kasus.
Kepala Dinkes Gunungkidul Ismono mengatakan, masyarakat perlu mewaspadai pemyebaran DBD selama musim hujan. Yakni drngan memberantas sarang nyamuk melalui langkah-langkah yang sudah dianjurkan. Khususnya pada lokasi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti. “Pemeberantasan dilakukan dengan menguras dan menutup tempat penampungan air serta menciptakan lingkungan yang bersih," ujar Ismono.
Selain itu juga, menggencarkan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J). Dalam satu keluarga menunjuk seorang juru pemantau jentik (jumantik) untuk mengawasi dan memberantas jentik nyamuk di lingkungan sekitar. "Diharapkan mampu menekan angka kasus DBD secara cepat dan meminimalkan risiko kematian akibat keterlambatan penanganan," tuturnya.
Petugas kesehatan di setiap faskes, lanjut Ismono, diminta untuk melakukan penanganan secara cepat dan tepat kepada pasien yang memiliki gejala DBD. Apabila terdapat keluarga yang mengalami demam atau tanda-tanda DBD segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
"Kami pastikan seluruh faskes di Gunungkidul selalu siap dan siaga dalam penanganan pasien yang bergejala DBD," tandasnya. (ndi/pra).
Editor : Heru Pratomo