RADAR JOGJA - Penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD) menjadi salah satu gangguan kesehatan yang banyak dialami masyarakat.
Kondisi ini terjadi ketika asam lambung naik ke esofagus, menyebabkan sensasi terbakar di dada atau dikenal sebagai heartburn.
Banyak faktor yang dapat memicu penyakit ini, salah satunya yang sering diabaikan adalah stres.
Para ahli kesehatan telah menemukan hubungan erat antara stres dan penyakit asam lambung.
Ketika seseorang mengalami stres, tubuh cenderung memproduksi lebih banyak hormon stres seperti kortisol.
Hormon ini dapat memperlambat sistem pencernaan dan meningkatkan produksi asam lambung.
Akibatnya, tekanan pada lambung meningkat, dan risiko asam lambung naik ke kerongkongan menjadi lebih tinggi.
Selain itu, stres sering kali mengubah kebiasaan makan dan pola tidur seseorang.
Banyak orang yang merasa cemas atau stres berlebihan cenderung makan lebih cepat, mengonsumsi makanan yang kurang sehat, atau bahkan melewatkan waktu makan.
Kebiasaan-kebiasaan ini dapat memperburuk gejala asam lambung.
Penelitian juga menunjukkan bahwa stres memperburuk gejala GERD, meskipun tidak secara langsung menyebabkan kondisi ini.
Orang dengan tingkat stres tinggi sering melaporkan gejala yang lebih parah seperti heartburn yang lebih sering, rasa tidak nyaman di perut, dan sulit tidur akibat asam lambung yang naik di malam hari.
Mengelola stres menjadi kunci penting dalam mencegah dan mengurangi gejala asam lambung.
Teknik relaksasi seperti meditasi, olahraga, atau terapi kognitif dapat membantu mengurangi stres dan memperbaiki keseimbangan sistem pencernaan.
Selain itu, menjaga pola makan yang teratur dan sehat, serta menghindari makanan yang memicu asam lambung seperti makanan pedas, berlemak, dan asam, juga sangat penting.
Dengan memahami hubungan antara stres dan penyakit asam lambung, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan menerapkan gaya hidup sehat untuk mencegah gejala yang lebih parah. (Anggi Alfiansyah)
Editor : Meitika Candra Lantiva