MUNGKID - Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jateng menginisiasi program Gerakan Masif Bina RA/BA Sehat Bergizi Berkah Selalu (Gembira Hatiku). Tujuannya untuk membantu pemerintah dalam penanganan stunting. Di Kabupaten Magelang, tercatat ada sekitar 900 anak yang bakal mendapat program tersebut.
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Magelang Muhammad Miftah mengutarakan, program itu serentak dilaksanakan di seluruh Raudhatul Athfal (RA)/Bustanul Athfal (BA) di lingkungan Kantor Kemenag Jateng. Untuk merealisasikan program tersebut, kemenag menggandeng Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Kabupaten Magelang.
Dia menyebut, Gembira Hatiku menyasar sekitar 900 siswa RA/BA se-Kabupaten Magelang. Dengan kategori berasal dari keluarga miskin. Masing-masing anak mendapatkan Rp 100 ribu per bulan. Namun, kali ini diberikan selama tiga bulan. Sebagai pembuka, ada 22 siswa RA/BA perwakilan dari masing-masing kecamatan yang menerima program tersebut.
Baca Juga: Jumlah Penumpang KAI Commuter Alami Peningkatan Signifikan pada Triwulan III 2024
Tujuannya untuk mencegah stunting pada siswa. "Sebulannya diberikan bantuan stimulan peningkatan gizi Rp 100 ribu. Tapi, kami berikan langsung 3 bulan Rp 300 ribu," paparnya, Kamis (3/10).
Miftah mengatakan, sasaran program tersebut memang dikhususkan bagi siswa RA/BA karena mereka masih dalam tahap tumbuh dan berkembang. Bantuan tersebut, tidak diserahkan kepada anak maupun orang tua. Melainkan diberikan kepada lembaga madrasah agar melakukan pendampingan.
Dia mempersilakan madrasah untuk membeli kebutuhan pangan siswa. Tentunya dengan melakukan pengawasan dan kontrol terhadap tumbuh kembang siswa. "Bisa dibelikan susu atau makanan tambahan seperti telur. Monggo teknis memberikannya bagaimana," sebut dia.
Baca Juga: Sterilisasi dan Vaksinasi Rabies Kucing Liar di Lingkungan UGM, untuk Pengendalian Populasi
Nantinya, bantuan tersebut akan diberikan secara bertahap kepada masing-masing siswa. Kemudian, pada akhir Desember, bakal ada evaluasi terkait program itu. Agar program tersebut tidak hanya sekadar seremonial saja, melainkan dapat dilakukan secara kontinyu. Mengingat Kemenag juga tidak ingin berdiam diri, tapi turut berkontribusi dalam mengentaskan stunting.
Miftah juga berharap, program ini dapat sinkron dengan upaya pemerintahan selanjutnya melalui program makan siang gratis. "Dengan pemerintahan yang baru, harapannya ada sinkronisasi. Karena tidak semua madrasah mendapat program tersebut," harapnya. (aya)
Editor : Heru Pratomo