RADAR JOGJA – Bayangkan jika Anda tiba-tiba merasa sangat sedih hingga menangis tanpa alasan yang jelas.
Apabila pernah mengalami hal seperti ini, bisa jadi Anda sedang mengalami hypophrenia.
Kondisi ini sering disalahartikan sebagai gangguan mental berat, padahal sebenarnya berhubungan dengan ketidakseimbangan emosional.
Menurut laman Siloam Hospitals, hypophrenia adalah kondisi medis di mana seseorang menangis tanpa alasan yang jelas.
Meskipun mirip dengan gangguan emosional lainnya, hypophrenia lebih terkait dengan perasaan mendalam yang sulit dijelaskan oleh situasi atau faktor eksternal.
Orang yang mengalaminya bisa merasa sangat sedih, tapi tidak tahu penyebab pastinya.
Penyebab hypophrenia belum sepenuhnya dipahami, tetapi beberapa faktor mungkin berperan.
Perubahan hormon, seperti saat kehamilan atau menopause, bisa memengaruhi emosi. Gangguan kecemasan, depresi, PTSD (gangguan stres pascatrauma), dan kondisi neurologis seperti Pseudobulbar Affect (PBA) juga bisa menjadi penyebab.
Gejala hypophrenia tidak hanya berupa tangisan tiba-tiba.
Orang yang mengalaminya biasanya sangat sensitif secara emosional, mudah tersinggung, dan sulit berkomunikasi.
Mereka mungkin merasa emosinya tidak terkendali, dipenuhi pikiran negatif, lelah, kehilangan nafsu makan, dan mengalami gangguan tidur.
Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami hypophrenia, dokter akan melakukan wawancara mendalam dan mungkin tes tambahan untuk memeriksa kondisi otak.
Jika didiagnosis, pengobatannya bisa berupa terapi psikologis atau obat antidepresan untuk membantu mengatur suasana hati.
Terapi psikologis seperti terapi perilaku kognitif dan terapi interpersonal dapat membantu pasien mengatasi pikiran negatif dan memperbaiki komunikasi.
Jika mengalami gejala-gejala ini, sebaiknya segera konsultasi dengan profesional medis.
Dengan penanganan yang tepat, hypophrenia dapat dikelola sehingga Anda bisa kembali menjalani hidup dengan lebih baik.
Editor : Meitika Candra Lantiva