JOGJA - Organisasi Ahli Bedah Tulang Belakang Pedicle Club Indonesia - Indonesian Orthopaedic Spine Society (PCI-IOSS) mengingatkan agar masyarakat berhati-hati terhadap teknik pijat abal-abal. Sebab, jika tidak dilakukan dengan benar kebiasaan pijat justru dapat membahayakan nyawa.
Executive Chairman of PCI-IOSS Dr Luthfi Gatam mengatakan, proses penyembuhan penyakit tulang bagian belakang perlu diagnosa medis. Sebab, ada beberapa bagian pada tulang belakang yang cukup rawan dan berbahaya jika penanganannya tidak tepat.
Dia pun mengingatkan agar masyarakat mewaspadai mulai maraknya teknik-teknik pijat yang kini mulai beragam. Sebab, banyak teknik pijat yang penanganannya tidak cocok bahkan berbahaya bagi tulang belakang.Contohnya ketika sakit pinggang atau skoliosis. Itu harus tahu dulu diagnosisnya. “Kan banyak tukang pijat yang mendiagnosis sendiri seperti urat putus lah, syaraf kejepit. Itu kurang tepat,”ujar Lutfhi, kemarin (30/8).
Menurut Lutfhi, perlunya masyarakat waspada dengan teknik pijat abal-abal karena sudah pernah ada kasus pasien yang meninggal dunia. Penyebabnya, karena tukang pijat salah melakukan penanganan pada tulang leher yang dampaknya membuat pembuluh darah pecah.
Oleh karena itu, dia mengimbau agar masyarakat yang memiliki permasalahan pada tulang atau tulang belakang lebih mengutamakan pemeriksaan kesehatan kepada dokter atau ahli bedah tulang. Sebab, dokter dipastikan lebih tahu tentang cara penanganannya.“Dokter sudah belajar dan dipastikan lebih tahu cara penyembuhannya,” terang Lutfhi.
President of PCI-IOSS Dr I Gusti Lanang Ngurah Agung AW menyampaikan, jumlah dokter ortopedi spesialis tulang belakang di Indonesia cukup memadai. Hingga saat ini jumlahnya mencapai 1.400 dokter spesialis dan jumlah itu kemungkinan akan terus bertambah tiap tahunnya. Di Indonesia juga memiliki tiga tempat untuk pendidikan spesialis tulang belakang. Yakni di Universitas Indonesia Jakarta, Universitas Airlangga Surabaya, dan Rumah Sakit Saiful Anwar Malang.“Jumlahnya cukup besar dan sekarang pengobatan ortopedi dapat dilakukan robotik yang sudah tersebar di rumah sakit Indonesia,” terang Gusti.
Chairman International Society for the Advancement of Spine Surgery - Asia Pacific (ISASS AP) 2024 dr Yudha Mathan Sakti menambahkan, pihaknya juga menggelar pertemuan dokter ahli bedah dari seluruh dunia di Hotel Tentrem. Kegiatan tersebut dihadiri oleh 486 peserta yang terdiri dari dokter subspesialis, dokter spesialis, dokter umum, serta mahasiswa kedokteran dari seluruh Indonesia dan mancanegara.“Pada acara ini akan ada pembelajaran, pertukaran ide, serta berbagi penelitian dan terobosan terbaru dalam perawatan tulang belakang," bebernya. (inu/din)
Editor : Satria Pradika