Namun, banyak pula yang beranggapan bahwa kebiasaan ini dapat membahayakan kesehatan, seperti menyebabkan masuk angin hingga paru-paru basah.
Benarkah demikian?
Faktanya, tidur dengan kipas angin yang menyala memang dapat menimbulkan beberapa risiko kesehatan, terutama bagi penderita asma dan alergi.
Kipas angin dapat mengedarkan debu dan kotoran yang menempel di baling-balingnya, sehingga memperparah gejala asma dan alergi.
Mitos yang beredar tentang bahaya tidur dengan kipas angin adalah dapat menyebabkan hipertermia (suhu tubuh terlalu tinggi) dan hipotermia (suhu tubuh terlalu rendah).
Faktanya, kipas angin tidak secara langsung menyebabkan kedua kondisi tersebut.
Hipertermia biasanya terjadi karena tubuh tidak mampu mendinginkan diri dengan cukup dalam cuaca yang sangat panas.
Kipas angin justru dapat membantu mendinginkan tubuh dengan meniupkan udara sejuk.
Sedangkan hipotermia umumnya terjadi karena paparan suhu dingin yang ekstrem.
Di Indonesia yang beriklim tropis, kecil kemungkinannya seseorang mengalami hipotermia akibat kipas angin, karena kipas angin tidak dapat mendinginkan suhu ruangan secara drastis.
Tidur dengan kipas angin memang aman, namun perlu diperhatikan kebersihannya untuk mencegah penyebaran debu dan kotoran.
Bagi penderita asma dan alergi, sebaiknya hindari tidur dengan kipas angin yang langsung mengarah ke tubuh.
Jika mengalami gejala kesehatan setelah tidur dengan kipas angin, konsultasikan dengan dokter.
Editor : Bahana.