RADAR JOGJA – Diare sering dianggap sepele, namun bisa menandakan masalah kesehatan serius.
Di negara berkembang seperti Indonesia, diare menjadi masalah utama dan penyebab kematian kedua pada anak di bawah 5 tahun, menyebabkan sekitar 525.000 kematian anak setiap tahun.
Pada tahun 2018, delapan provinsi di Indonesia mengalami kejadian luar biasa (KLB) diare, dengan 756 kasus dan 36 kematian, menghasilkan Case Fatality Rate (CFR) yang tinggi, yakni 4,76 persen.
Diare ditandai dengan buang air besar lebih sering dan tinja lembek atau cair, dengan dehidrasi berat sering menjadi penyebab utama kematian.
Anak-anak dengan kekurangan gizi atau kekebalan tubuh rendah, serta orang dengan HIV, berisiko tinggi mengalami diare yang mengancam jiwa.
Melansir dari radartulungagung.jawapos.com, tiga faktor utama mempengaruhi kejadian diare pada anak: lingkungan, sosiodemografi, dan perilaku.
Lingkungan yang kotor, pengelolaan tinja yang buruk, dan air minum yang terkontaminasi menjadi penyebab utama.
Sosiodemografi, termasuk status ekonomi dan usia anak, juga berperan penting.
Perilaku seperti pemberian ASI eksklusif dan kebiasaan mencuci tangan dapat mengurangi risiko diare.
Penanganan diare mencakup pemberian oralit, zink, melanjutkan ASI dan makanan, penggunaan antibiotik secara selektif, dan edukasi bagi ibu atau pengasuh tentang tanda-tanda diare yang memerlukan perhatian medis segera.
Editor : Meitika Candra Lantiva