RADAR JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja meminta agar masyarakat mewaspadai persebaran penyakit leptospirosis. Sebab, hingga Juni sudah ditemukan satu kasus meninggal dunia.
Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan, selama enam bulan terakhir pihaknya mencatat ada lima kasus. Penyakit yang disebarkan melalui kencing tikus itu mayoritas ditemukan pada wilayah padat penduduk. Selain itu, tercatat satu orang yang meninggal dunia di Kemantren Gondokusuman.”Ditemukan pada awal tahun,” ujar Endang, kemarin (16/6).
Adanya kasus leptospirosis di Kota Jogja tidak lepas dari mudahnya bakteri leptospira menyebar melalui genangan air. Oleh karena itu, pentingnya perhatian lebih terhadap penyebaran leptospirosis saat musim penghujan. Bakteri leptospira dapat menular secara langsung ke manusia melalui darah, urine, atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi bakteri leptospira. Sementara untuk penularan secara tidak langsung bisa melalui air, sungai, danau, selokan, hingga lumpur yang tercemar urine hewan yang terinfeksi bakteri leptospira. “Oleh karena itu kami imbau masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),” pesannya.
Kepala Bidang P2P, Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Jogja Lana Uwanah membeberkan, sepanjang 2023 ditemukan 23 kasus leptospirosis. Namun tidak ditemukan adanya kasus meninggal dunia.
Dia pun meminta, agar masyarakat tetap berupaya melakukan pencegahan. Yakni dengan meminimalisasi sampah yang kerap mengundang tikus. Selain itu juga menggunakan sarung tangan dan sepatu boot untuk menghindari paparan urine hewan pengerat tersebut.“Kemudian juga cuci tangan dan bersih-bersih setelah beraktivitas di tempat yang berisiko terjadi penularan leptospirosis,” tandasnya. (inu/din)
Editor : Satria Pradika