Atasi Lonjakan Kasus DBD, Gunungkidul Sempat Jajaki Program Nyamuk Wolbachia tapi Batal, Ini Alasannya
Andi May• Selasa, 7 Mei 2024 | 05:30 WIB
TEKAN DBD: Tim World Mosquito Program (WMP) saat menunjukan nyamuk yang sudah dikembangkan dengan teknologi Wolbachia di Halaman Dinas Kesehatan Bantul (24/5). Rencananya, nyamuk akan disebar di Kabupaten Bantul.(IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA )
RADAR JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul mengaku sempat
berkoordinasi dengan Akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menjalankan program Wolbachia di Gunungkidul.
Namun begitu, program tersebut tidak jadi terlaksana dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Di antaranya wilayah Gunungkidul bukanlah wilayah yang padat penduduk.
"Berdasarkan maping lokasi UGM, kayaknya Gunungkidul belum dapat dilaksanakan program Wolbachia," ucap Kepala Dinkes Gunungkidul Ismono Senin (6/5).
Kendati demikian, pihaknya gencar melakukan foging di lokasi-lokasi khusus persebaran nyamuk Aedhes Aigypti itu. Setidaknya 33 lokus telah dilaksanakan foging demi memberantas perkembangbiakan nyamuk berbahaya itu.
Tak hanya itu, sosialisasi mengenai gerakan PSN kepada masyarakat juga lebih intensif mengingat jumlah kasus yang cukup tinggi itu.
Ismono juga memastikan sarana dan prasaran di faskes-faskes memadai untuk penanganan pasien DBD.
"Masyarakat juga gencar menerapkan gerakan PSN," imbuhnya.
Ismono menyampaikan, stok obat jenis Abathe di beberapa rumah sakit dan puskesmas mulai menipis. Namun, pihaknya telah mengusulkan bantuan stok abathe ke Pemprov DIY. (ndi)