Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Makan Salak Jadi Biangkerok Sembelit, Mitos atau Fakta? Ahli Gizi dan Olahraga Bongkar Rahasia Konsumsi Buah Salak yang Bikin Orang Salah Kaprah

Meitika Candra Lantiva • Senin, 25 Maret 2024 | 21:55 WIB
Salak Pondoh Pulesari, Turi, Kabupaten Sleman, DIY.  Sering dijadikan biang kerok sembelit, berikut penjelasannya.
Salak Pondoh Pulesari, Turi, Kabupaten Sleman, DIY. Sering dijadikan biang kerok sembelit, berikut penjelasannya.

RADAR JOGJA - Buah Salak atau Snake Fruit merupakan salah satu jenis buah palem yang biasa dimakan.

Tanaman dengan nama ilmiah Salacca Zalacca ini tumbuh baik di dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian 500 meter di atas permukaan laut (Mdpl).

Pohon ini tumbuh subur di iklim tropis. Dan akan mudah berbuah di tempat yang teduh.

Pohon Salak akan mulai berbuah di usia tiga tahun.

Usia produktif pohon Salak bisa mencapai 7-12 tahun tergantung perawatannya. Artinya, lebih dari itu, tanaman Salak butuh peremajaan.

Di Indonesia dengan iklim tropis, buah bersisik pada kulitnya ini bisa dipanen dua kali dalam setahun. Karena untuk menuju masa panen membutuhkan wakytu 5-6 bulan.

Di Yogyakarta misalnya, buah Salak tumbuh subur di lereng Gunung Merapi dengan iklim sejuk.

Nah, jenis salak yang paling populer di lereng Gunung Merapi ini yakni Salak Pondoh dan Salak Madu.

Keduanya memiliki rasanya manis dan sedikit rasa masam. Kemudian dagingnya juga tebal dan ukurannya jumbo.

Salak Madu.
Salak Madu.

Perbedaan Salak Pondoh dan Salak Madu

Salak Madu cenderung lebih manis dari Salak Pondoh. Teksturnya juga lebih lunak.

Secara fisik, yang membedakan dari keduanya adalah bentuk buah dan warna kulitnya.

Salak Madu bentuk buahnya lebih bulat. Sedangkan kulitnya lebih mengkilat dan berwarna coklat muda.

Salak Pondoh pada bagian ujungnya sedikit lebih runcing dan kulitnya lebih gelap.

Untuk pohonnya hampir susah dibedakan kalau belum berbuah.

Dibalik Makan Buah Salak

Di balik rasanya yang sedikit asam, buah Salak ini kerap dijadikan biangkerok penyebab sembelit.

Lalu benarkah demikian? Apakah hal ini mitos atau fakta? 

Menurut Ahli Gizi dan Olahraga, Jansen Ongko, M.Sc., RD., mengkonsumsi buah salak menyebabkan sembelit ternyata hanyalah mitos belaka.

Jansen Ongko mengatakan, mengkonsumsi buah salak justru membantu melancarkan dan menyehatkan sistem pencernaan loh.

Hal ini dikarenakan, kandungan serat, kalsium, tanin, saponin, flavonoid dan beta karotennya yang baik untuk sistem pencernaan.

Eits, jangan dulu berprasangka buruk. Makan buah Salak bukan menjadi penyebab susah buang air besar.

Tapi sebaliknya, makan buah Salak dalam jumlah yang tepat bisa mencegah terjadinya sembelit.

Hal ini karena kandungan serat dalam salak yang memiliki manfaat bagi kesehatan khususnya pada saluran pencernaan.

Serat tersebut dapat membantu meningkatkan pertumbuhan bakteri baik di usus, serta membuat tinja menjadi lebih lunak sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan.

Dengan demikian, salak dapat berkontribusi dalam menjaga kesehatan pencernaan dan mencegah masalah sembelit.

Melansir dari bnp.jambiprov.go.id, berikut kandungan nutrisi dalam 100 gram daging buah salak. Antara lain:

Nah, makan buah Salak sebabkan sembelit, ternyata hanyalah mitos sob! Bukannya bikin sembelit, malah bantu cegah sembelit lho sob!

Salak Madu.
Salak Madu.
Editor : Meitika Candra Lantiva
#mitos atau fakta #biangkerok #buah salak #sembelit #Ahli Gizi dan Olahraga Bongkar Rahasia Konsumsi Buah Salak