mc
RADAR JOGJA - botok
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak anggota Generasi Z yang memilih untuk menjalani prosedur suntik botok guna mencapai standar kecantikan yang diidamkan.
Terlepas dari usia muda mereka, banyak yang menganggap mctindakan ini sebagai langkah awal untuk mencegah penuaan dini dan menciptakan penampilan yang lebih "sempurna."
Dilansir dari laman New York Post, Jum’at (22/12) Seiring perkembangan zaman, para remaja dan wanita berusia awal 20-an mulai memakai serum anti-penuaan, selotip anti-kerut, dan suntikan Botox.
Semua itu dimaksudkan untuk memperoleh wajah tampak awet muda sedini mungkin.
Faktor-faktor tertentu mendorong Generasi Z untuk mengadopsi tren ini, termasuk pengaruh media sosial dan tekanan sosial untuk memenuhi standar kecantikan.
Mirisnya praktik ini bahkan ada dilakukan oleh anak yang masih berusia 14 tahun.
Lebih-lebih mereka bahkan bersedia merogoh kocek sampai USD 1.000 atau sekitar Rp 15,5 juta untuk satu kali perawatan demi menghindari penuaan.
Hal ini menjadi perhatian para dokter kecantikan dan estetika, mengingat tindakan suntik Botox yang dilakukan pada usia yang terlalu muda dapat menimbulkan risiko.
Beberapa ahli menyoroti pentingnya edukasi mengenai risiko tren ini.
Salah satunya Dr. Mundeep Shah mengaskanbahwa tindakan suntik Botok disarankan dilakukan paling cepat di usia pertengahan 20-an hingga pertengahan 30-an.
Apabila dilakukan terlalu dini, hal tersebut bukan hanya akan berdampak pada fisik, tapi juga secara mental.
Baca Juga: Hasil Roma v Napoli: Hadapi Sembilan Pemain Partenopei, Giallorosi menang 2-0
Hal ini dikarenakan adanya stigma bahwa penuaan menjadi momok yang ditakuti dan dihindari.
Akibatnya, mereka akan memandang diri mereka kurang cantik, dianggap kurang muda, kurang mulus, dan akhirnya menjadi kecanduan melakukan prosedur kecantikan.
Maraknya tren ini tentu menjadi perhatian akan perlunya memberikan pemahaman lebih baik kepada Gen Z mengenai kesehatan mental dan mendorong konsep kecantikan yang beragam.
Dalam upaya menciptakan lingkungan yang lebih positif, ahli dan masyarakat perlu bekerja sama untuk mengedukasi, mendukung kesehatan mental, dan mendorong penghargaan terhadap keunikan setiap individu khususnya dikalangan anak muda.
Editor : Bahana.