Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jumlah Kasus Cacar Monyet Meningkat, Jadi Pelajari Gejala dan Pencegahannya.

Bahana. • Senin, 13 November 2023 | 18:49 WIB
Ilustrasi Seseorang terkena cacar monyet.  (rsudblora.blorakab.go.id)
Ilustrasi Seseorang terkena cacar monyet. (rsudblora.blorakab.go.id)

RADAR JOGJA -- Cacar monyet adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh virus langka yang menyerang hewan.

Di Indonesia, jumlah kasus cacar monyet, juga dikenal sebagai cacar monyet, telah meningkat.

Ada 44 kasus positif cacar monyet pada 12 November 2023, naik dari kasus pertama yang ditemukan pada 13 Oktober 2023.

Genus Orthopoxvirus, yang termasuk dalam famili Poxviridae, terdiri dari virus cacar monyet, virus variola, yang menyebabkan cacar, virus vaccinia, yang digunakan untuk membuat vaksin cacar, dan virus cacar sapi.

Cacar monyet atau monkeypox pertama kali ditemukan pada tahun 1958, ketika wabah penyakit yang mirip cacar menyerang koloni monyet yang dipelihara untuk peUntuk pertama kalinya, kasus cacar monyet yang menginfeksi manusia tercatat di Republik Demokratik Kongo pada tahun 1970.

Sejak saat itu, kasus cacar monyet telah dilaporkan telah menyebar di beberapa negara Afrika Tengah dan Barat lainnya, seperti Kamerun, Republik Afrika Tengah, Pantai Gading, Republik Demokratik Kongo, Gabon, Liberia, Nigeria, Republik Kongo, dan Sierra Leone.

Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa virus cacar monyet dapat menular melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi, orang yang terinfeksi, atau benda yang terkontaminasi virus.

Selain itu, virus dapat menyebar melalui plasenta dari ibu hamil ke janin.

Selain itu, virus cacar monyet dapat menyebar dari hewan ke manusia melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi, merawat atau memproses hewan buruan, atau menggunakan produk yang berasal dari hewan yang terinfeksi.

Virus juga dapat menyebar melalui kontak langsung dengan cairan atau luka tubuh seseorang atau dengan bahan yang telah terkontak dengan cairan atau luka tubuh, seperti pakaian atau linen.

Virus cacar monyet telah ditemukan menyerang berbagai spesies hewan, tetapi sejarah alami virus ini belum diketahui.

Dengan cara yang diketahui sama, reservoir tertentu hingga saat ini belum , dan penelitian tambahan diperlukan. Meskipun namanya cacar monyet, monyet bukanlah sumber utama.

Menurut Siloam Hospital, masa inkubasi virus cacar monyet berkisar antara 6 dan 13 hari, dan gejala biasanya muncul antara 6 dan 16 hari setelah terpapar. WHO membagi gejala cacar monyet menjadi dua fase: invasi dan erupsi kulit.

1. Periode Invasi:

Waktu ini terjadi antara 0 dan 5 hari setelah terinfeksi virus. Sakit kepala, demam, sakit punggung, lemas (asthenia), nyeri otot, mual, muntah (terutama setelah gigitan hewan) dan pembengkakan kelenjar getah bening (limfadenopati) adalah gejala yang ditimbulkan.

Pembengkakan kelenjar getah bening adalah gejala cacar monyet yang berbeda dari gejala cacar lainnya. Pada kasus lain, gejalanya mungkin lebih parah, seperti masalah pernapasan seperti radang tenggorokan, batuk, dan hidung tersumbat.

2. Periode erupsi kulit

Pada cacar monyet, gejala periode erupsi kulit adalah ruam kulit yang biasanya muncul antara satu hingga tiga hari setelah demam.

Ruam pertama muncul di wajah dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh.

Tangan, kaki, dan wajah paling sering terkena ruam. Pada kulit, ruam dimulai dengan bintik yang kemudian berubah menjadi lenting, yaitu lepuhan berisi cairan, atau vesikel.

Jika sudah selesai, kerak akan terbentuk . Menurut Kementerian Kesehatan, hal-hal berikut dapat dilakukan untuk mencegah infeksi virus cacar monyet:

1. Hindari kontak dengan hewan yang bisa menjadi reservoir virus(termasuk hewan yang sakit atau yang ditemukan telah mati di daerah dimana cacar monyet terjadi).

2. Hindari kontak langsung dengan bahan apapun, contohnya tempat tidur, yang pernah bersentuhan dengan yang sakit.

3. Pisahkan pasien yang terkena infeksi dari orang lain yang mungkin bisa beresiko terinfeksi.

4. Melakukan cuci tangan dengan baik dan benar setelah kontak dengan hewan atau manusia yeng terinfeksi.

5. Menggunakan alat perlindung diri (APD) saat merawat pasien yang terinfeksi.

6. Memasak daging dengan baik, benar dan matang.

Meningkatnya jumlah kasus cacar monyet di Indonesia merupakan peringatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kebersihan dan kewaspadaan.
(Putri Aprilia Ningsih/ Radar Jogja)

Editor : Bahana.
#dinkes #cacar monyet #afrika #virus