Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Yuk Kenali Sindrom Peter Pan, Tingkah Laku Kekanak-kanakan pada Orang Dewasa

Bahana. • Senin, 6 November 2023 | 20:45 WIB
Photo
Photo

RADAR JOGJA – Sindrom Peter Pan adalah sebuah istilah dalam ilmu psikologi yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang bisa berprilaku secara dewasa walaupun usianya sudah matang.

Istilah sindrom Peter Pan ini menjadi popular setelah Dr. Dan Kiley, yaitu seorang psikolog yang menerbitkan buku berjudul Sindrom Peter Pan: Pria yang Tak Pernah Tumbuh Dewasa.

Istilah ini bukanlah diagnosis resmi dan hanya digunakan secara informal di dunia psikologi. Seseorang dengan kondisi sindrom Peter Pan yang menolak untuk memikul tanggung jawab layaknya orang dewasa bertindak.

Mereka justru tidak bersikap dewasa dan juga cenderung memiliki sifat kekanak-kanakan.

Orang yang mengalami sindrom Peter Pan ini akan kesulitan dalam membangun hubungan social yang sehat.

Mereka tidak dapat bersifat secara professional di dalam dunia kerja dan juga sulit bersikap romantic terhadap pasangannya.

Para ilmuwan masih belum mengetahui apa penyebab pasti dari sindrom Peter Pan ini karena kurangnya bahan riset.

Namun, para ahli berpendapat bahwa orang tua yang terlalu protektif dapat membuat seseorang mungkin lebih mengalaminya.

Ketika anak-anak memperoleh perlindungan yang secara berlebihan, mereka akan kesulitan untuk mengembangkan keterampilan dalam pemecahan masalah di dunia nyata.

Ketika tumbuh dewasa, mereka mungkin mengharapkan lingkungan yang lebih nyaman seperti masa kanak-kanak.

Karena sindrom Peter Pan ini bukanlah diagnosis formal, maka tidak ada kriteria khusus yang menentukan kondisi tersebut.

Namun ada beberapa tanda umum yang patut dan harus diperhatikan. Kesulitan memegang sebuah tanggung jawab dan tidak memiliki komitmen adalah salah satu tanda-tandanya.

Gejala lainnya yang mungkin akan terlihat adalah mereka memiliki sifat yang egois dan menghindari kritik.

Selain itu juga, seseorang dengan sindrom tersebut juga sulit mengendalikan perilaku atau tingkah yang impulsive pada dirinya.

Mereka juga kadang cenderung takut akan kesepian dan selalu bergantung pada orang lain.

Tanda-tanda yang paling sering diperlihatkan oleh pengidap sindrom ini adalah mereka kesulitan dalam menjalin hubungan romantis.

Mereka sering kali untuk berganti pasangan karena tidak mampu memegang komitmen yang tinggi dalam berhubungan.

Permasalahan utama pada pengidap sindrom ini adalah mereka sangat sulit dalam mengekspresikan emosi.

Mereka juga tidak mampu dalam memainkan peran yang seimbang untuk menata hubungan romantic yang sehat.

Selain itu juga, mereka juga mungkin memberikan beban yang tidak adil dan jiga berlebihan terhadap pasangannya.

Mereka seringkali tidak menyadari akan tindakannya, sehingga hal tersebut berdampak negative pada hubungan kedua pasangan.

Kedewasaan bukanlah sesuatu yang terjadi dalam waktu yang singkat.

Menjadi dewasa itu membutuhkan suatu proses yang dilakukan secara bertahap yang terjadi selama bertahun-tahun.

Melewati pengalaman dan perasaan yang tidak menyenangkan adalah salah satu bentuk proses untuk menuju kedewasaan.

Hampir setiap orang menemukan kesulitan untuk beradaptasi menjadi orang dewasa dan merindukan masa kanak-kanak yang bahagia.

Oleh sebab itu, ada baiknya untuk mencari dukungan secara professional apabila mengalami kesulitan dalam membangun hubungan social yang sehat dan menanggung beban yang dirasa berat. (Putri Aprilia Ningsih/ Radar Jogja)

Editor : Bahana.
#peter pan #sindrom #psikologi