RADAR JOGJA - Penularan dan timbulnya penyakit cacar monyet atau Monkeypox cukup membuat warga menjadi waspada.
Penyakit yang berawal mula dari Benua Afrika tersebut, diketahui telah muncul di Jakarta (Oktober 2023).
Tidak hanya di Jakarta, kasus Cacar Monyet ini juga telah muncul di kota Bandung.
Penyakit yang bisa menimbulkan kondisi serius jika tidak dirawat sejak dini ini membuat dinas kesehatan se-Indonesia waspada.
Warga juga berupaya agar wabah ini tidak mengenai anggota keluarganya.
Perlu diketahui, sejauh mana penyakit ini menular dan timbul dari mana, berikut beberapa fakta tentang penyakit monkey pox ini.
Monkeypox adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Monkeypox.
Virus ini mirip dengan virus Variola (penyebab cacar), dan penyakit ini umumnya ditemukan di daerah-daerah tertentu di Afrika.
Berikut beberapa fakta dan data tentang penyakit Monkeypox:
1. Gejala: Gejala penyakit Monkeypox mirip dengan cacar, tetapi biasanya lebih ringan.
Gejala umumnya mencakup demam, sakit kepala, mialgia (nyeri otot), nyeri sendi, kemerahan pada kulit, pembentukan lepuh berisi cairan yang mirip dengan cacar, dan pembengkakan kelenjar getah bening.
Baca Juga: Rekrut Oppa Kim Bong-Jin untuk Perkuat Pertahanan PSIM Jogja
2. Penyebaran: Penyakit Monkeypox pertama kali diidentifikasi di Republik Demokratik Kongo pada tahun 1970.
Virus ini dapat menyebar melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi (terutama tikus pohon dan primata) atau melalui manusia ke manusia melalui kontak dekat dengan cairan tubuh penderita atau benda yang terkontaminasi oleh virus.
3. Kasus manusia: Penyakit Monkeypox lebih sering terjadi di Afrika Tengah dan Barat.
Kasus manusia biasanya jarang terjadi, tetapi ada beberapa peningkatan kasus yang telah tercatat. Kasus Monkeypox telah dilaporkan di beberapa negara di luar Afrika, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura.
4. Diagnosa: Diagnosa Monkeypox biasanya dilakukan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan laboratorium, dan sejarah paparan.
Tes darah dapat digunakan untuk mengidentifikasi virus Monkeypox.
5. Pengobatan: Tidak ada pengobatan khusus untuk Monkeypox, tetapi perawatan medis dapat membantu meredakan gejala dan mencegah komplikasi.
Terapi suportif, seperti obat pereda nyeri dan perawatan luka, dapat direkomendasikan.
6. Pencegahan: Pencegahan melibatkan tindakan seperti menjaga kebersihan pribadi, menghindari kontak dengan hewan yang berpotensi terinfeksi, dan mengikuti praktik-praktik kebersihan yang baik.
Vaksin untuk Monkeypox sedang dalam pengembangan, tetapi belum tersedia secara umum.
7. Kasus di luar Afrika: Kasus Monkeypox di luar Afrika cenderung lebih jarang dan umumnya merupakan hasil dari penularan manusia ke manusia.
Kasus ini sering kali terkait dengan perjalanan ke daerah dengan kasus Monkeypox yang sudah diketahui.
Baca Juga: Kekeringan Ekstrem, Sudah Dua Bulan 57 Kapanewon Tak Diguyur Hujan
8. Karantina: Orang yang terinfeksi Monkeypox harus diisolasi untuk mencegah penularan kepada orang lain.
Hal ini dapat melibatkan karantina di rumah sakit atau isolasi di rumah.
9. Kasus Monkeypox di luar Afrika seringkali terjadi akibat impor hewan yang terinfeksi, seperti tikus atau primata eksotis.
Oleh karena itu, pengawasan ketat terhadap perdagangan hewan liar penting untuk mencegah penularan virus ini.
10. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai otoritas kesehatan sedang aktif memantau perkembangan Monkeypox dan memberikan pedoman untuk pengendalian penyakit ini.
Penting untuk diingat bahwa Monkeypox jarang menyebar di luar daerah tertentu di Afrika, dan risiko penularan di luar daerah tersebut umumnya rendah.
Namun, penting untuk tetap waspada terhadap penyakit menular dan mengikuti panduan kesehatan yang ada jika terjadi penularan. (iwa)
Editor : Iwa Ikhwanudin